Vanya Bertanya (3) Tamat
by cerita EKA on Aug.05, 2009, under Anthology - Cerpen
Kilasan cerita lalu :
Aku dan suamiku membesarkan Vanya, anak hasil hubungan diluar nikah Maya (sepupuku) dan pacarnya. Kami merawat Vanya dengan cinta kasih yang berlimpah, hingga ia tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas juga periang. Namun di ulang tahun Vanya yang ke tiga, Maya datang. Dan kunjungannya adalah kunjungan rutin yang merisaukan hati. Akankah ia mengambil cahaya kalbuku? Meminta darah dagingnya yang sudah ku rawat dengan sepenuh hati?
————————–
.
Semenjak itu Maya adalah pengunjung tetap kediamanku, tentu saja jika tidak ada jadwal terbang. Namun sesibuk – sibuknya, minimal sebulan sekali akan ia sempatkan menengok Vanya. Ia sering memberikan Vanya bermacam hadiah dan mengajaknya bercanda. Mereka sungguh akrab, dan itu membuatku resah. Walau aku yang membesarkan Vanya, namun tak dapat dipungkiri Maya adalah ibu kandungnya. Bukankah darah lebih kental daripada air? Maya memang pernah berjanji tak akan mengambil Vanya dariku namun kemungkinan itu tetap terbuka lebar. Bukankah dulu dia bilang titip Vanya. Titip. Menitipkan berarti suatu saat akan diambil. Aku takut.
.
Besok adalah ulang tahun Vanya yang kelima, dan seperti biasa akan ada pesta ulang tahun. Namun aneh, mendung menggelanyuti wajah Vanya sedari pagi. Padahal aku sudah berjanji akan membelikan sepeda mini dengan keranjang sebagai hadiah. Heran juga kenapa tiba – tiba murung seperti menjadi nama tengahnya. Aku sedang sibuk di dapur dengan tepung, gula dan telur ketika Vanya menarik – narik celemekku.
“Bunda, tante Maya mana? Koq gak dateng – dateng ?”
Oh ini rupanya, ini penyebab ia murung hingga roti oles yang kubuatkan tadi pagi tak dimakannya. Boro – boro disentuh, dilirik saja tidak. Ini biang keroknya ! Ia mencari Maya !! Huh, padahal aku sudah capek – capek mendekorasi ruangan, aku sudah sibuk memesan katering untuk pesta nanti sore, aku sudah menyebar undangan ke anak – anak tetangga. Aku ! Iya aku yang sudah berlelah – lelah. Kenapa Maya yang dicari, kenapa ?! Aku diamkan saja pertanyaan Vanya tak terjawab. Namun Vanya terus menarik – narik celemekku. Keras kepala juga ini anak, persis ibunya.
“Bunda, tante Maya mana? Tante Maya mana ? Nanti tante Maya datang kan bunda? Datang kan?”
Aaarrrrhh ! Maya lagi, Maya lagi.
“Vanya..!” hardikku keras.
“Dari tadi cari-cari tante Maya terus ! Gak liat apa bunda lagi repot hah?!” teriakanku membahana memecah hening dapur. Ia terlonjak kaget. Mungkin suaraku bagai guntur di wajah mendungnya. Dan ia pun terdiam. Melihat titik – titik air di sudut matanya, ah, kenapa hatiku yang pedih? Aku tak pernah membentaknya, sekalipun tidak. Ini adalah yang pertama dan aku bertekad akan menjadi yang terakhir. Aku telah berjanji untuk mendidiknya dengan kasih bukan dengan teriakan.
“Maafkan bunda Vanya, bunda capek, sekarang Vanya bobo siang dulu ya, besok pas ulang tahun Vanya, tante Maya pasti datang. Pestanya kan besok,” hiburku sambil mengelus rambutnya.
“Benar bunda?” tanyanya memastikan. Dan aku mengangguk dalam perih. Ternyata Vanya lebih mencari Maya. Kupalingkan wajah, tanpa kusadari air mataku menetes. Setelah Vanya pergi dengan senyum tersungging di bibirnya, kuletakkan adonan yang masih setengah jadi. Hilang sudah semangatku untuk memanggang kue, biarlah besok aku memesan kue tart dari toko seberang saja. Kulepaskan celemek dan aku pun menuju kamar. Aku ingin menangis, aku ingin mencurahkan perasaanku pada bantal dan seprei. Ini tak adil. Aku, aku yang mencebokinya ketika kecil dulu, yang berjaga semalam suntuk ketika badannya panas karena imunisasi, yang memeluknya ketika bermimpi buruk. Aku yang melimpahinya dengan cinta, yang membesarkannya dengan penuh sayang. Namun Maya dan Vanya memang semakin lengket dua tahun terakhir. Jika beberapa lama Maya tak datang menjenguk, pasti Vanya sudah ribut meminta ditelponkan. Ada rasa tersisih.
Aku terbangun dengan kecupan lembut di pipi. Suamiku sudah pulang rupanya. Lho jam berapa ini, pastilah aku jatuh tertidur karena menangis. Cepat aku bangun dan membuatkan mas secangkir teh hangat. Ada yang aneh, biasanya jam 4 sore Vanya akan membangunkanku karena ia akan pergi main ke tetangga sebelah. Aku memang harus dibangunkan, karena pagar kugembok rapat demi keamanan. Hanya aku dan mas saja yang punya kuncinya. Hidup di Jakarta, siapa yang mau mengambil resiko? Namun ini aneh, kalau mas sudah pulang berarti ini sudah jam 6 sore, dan tak terdengar suara Vanya. Tiba – tiba perasaanku tak enak.
Segera setelah aku meletakkan cangkir teh, ku cari Vanya di kamarnya. Tapi tidak ada, ke kamar mandi juga tak ada, kupanggil – panggi namanya namun tak ada sahutan. Mas yang mendengar suara kuatirku pun segera ikut mencari. Vanya, kamu dimana nak? Maafkan bunda nak, bunda gak bermaksud membentakmu, bunda hanya takut kehilanganmu. Kamu dimana sayang? Pekikku dalam hati. Setelah sibuk mencari di dalam rumah, akhirnya kami temukan Vanya tertidur di ayunan taman belakang. Tempat favoritnya bermain. Segera kupeluk dan kuciumi dia, namun ternyata badannya panas. Mas menenangkanku bahwa itu panas biasa, mungkin karena kelelahan bermain. Tapi menurutku ini bukan panas biasa, mas tidak tahu siapa yang dicari Vanya tadi siang. Cukup diberi obat penurun panas dan kompres saja kata Mas lagi. Dan aku pun menurut.
Segera ku gendong Vanya kedalam, ia membuka matanya dan bertanya, “Bunda, tante Maya mana?” hampir terlepas Vanya dari gendonganku, untunglah Mas sigap menangkap. Ketika itu telepon berdering dan aku pun bergegas ke ruang tengah. Diseberang sana tante Febri menangis meraung – raung, pesawat yang diawaki Maya hilang dalam penerbangan dari Jayapura menuju Oksibil jam 2 siang tadi. Persis ketika Vanya menarik – narik celemekku. Aku terduduk lesu. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan Vanya ?
TAMAT
Popularity: 1%
Related posts:





August 6th, 2009 on 10:07 PM
woww wowww wowww….sungguh kejadian yang sanagat memilukan, mengiris perih dihati, menyayat jiwa yang tenang, mengalirkan air mata yang mengendap. kenapa bunda maya harus pergi??? kenapa bundan pergi sebelum vanya tumbuh dewasa??? kenapa harus pergi di saat vanya ulang tahun??? kenapa harus sekarang dan saat ini..hikzzz hikzzz hikzzzz *vanya menangis terisak isak*….
begitu kuatnya ikatan bathin antara seorang dengan bundanya. hingga dia mencari bundanya disaat ada sesuatu yang terjadi pada bunda. pencarian itu ternyata wujud dari kekuatiran seorang malaikat kecil terhadap bundanya……
vanya….kamu jangan takut, om zulhaq disini siap menjadikanmu anak semata wayang, yang akan om rawat dengan bunda luna maya kekekekekekekekek….
harus ada sambungannya lagi niy…tanggung, biarkan vanya sampe dewasa, sampe jatuh cinta sama om zulha yang paling ganteng kekekekeekkekke
#EKA
Hiyaaaaaaaaaaa
kalo gue gak tahu lu sinting gue kira lu pedofil deh
masa doyan anak kecil hahaha
Tapi ikatan batin itu misteri yang KUasa..
enatah gimana, bisa dtg tepat waktunya..
August 6th, 2009 on 11:55 PM
Hmm… berarti jenazahnya Maya mestinya ada diantara selusinan ambulans yang lewat sini tadi…
#EKA
ngeriiii, lewat depan rumah lu ya yer?
August 7th, 2009 on 8:45 AM
*speechless*
turut sedih untuk Vanya yg kehilangan ibunya..
turut berduka untuk tante Maya yang telah berpulang..
*masih speechless*
#EKA
hehehe
Makan nano2 dulu ?
biar kaget mungkin
August 7th, 2009 on 8:48 AM
saya juga gak ngerti harus bersedih atau tertawa membaca akhirnya.. hm..
endingnya menarik, mbak.
#EKA
lho koq malah nyengir….
thank u udh baca ya…
August 7th, 2009 on 9:24 AM
akhirnya gak ada tamu tetap lagi
#EKA
Sudah kembali ke surga
August 7th, 2009 on 12:26 PM
oh ya…lupa!!
semalam keburu teler, belum komen terakhir
harusnya ceritanya di tamatin dengan ending perayaan ULTAHnya Vanya…terserah mau nulis dia sedih bgt atau di tulis, mbak menjelaskan dengan sedikit ngeles ke vanya, dan dia menerima penjelasan dan mau merayakan ultahnya tanpa bunda maya…karena pas perayaan ada om zulhaq yang datang menghibur dan memberikan suasana dan senyum baru buat vanya huakakakakakk
August 7th, 2009 on 1:38 PM
Ini baru kudengar lagi istilah “darah lebih kental dari air”..
hiks ..ceritanya mengharukan …
Nulis lagi .. yuk..!
#EKA
hayuuuuks
August 7th, 2009 on 2:01 PM
hehehe…itu catatan buat yang lain, kalo mau dititipin anak orang, pikirkan dulu semua konsekuensinya!
#EKA
semoga ada hikmah yg bisa dipetik
August 7th, 2009 on 4:15 PM
kasihan bangat vania
#EKA
Sudah menjadi garis hidupnya
August 13th, 2009 on 9:14 AM
Mau komen OOT boleh ya
selamat menempati rumah baru ya ka.. hihihi akhirnya dot com
gara2 liburan n ga punya koneksi internet jadi ketinggalan berita deh
Ade´s last blog ..Saya kembali
August 7th, 2009 on 12:24 PM
tanyakan pada rumput yang bergoyang he2
August 21st, 2009 on 9:04 PM
Eka, seriusan… pernah ngirim cerita ceritamu ke penerbit gak… you are a good story teller. beneran loh
silly´s last blog ..Menganalisa Cara Berciuman Sesuai Kepribadian
August 5th, 2009 on 8:31 PM
waqduh, kangen bangen sama mbak eka. im sorry so much baru bisa nunggul lagi.xexexe…
btw, bonding apaan yak? maksudnya hubungan gitu??
#EKA
bonding = ikatan, hubungan.
dlm kasus ini ikatan batin antara anak dan ibu kandungnya
August 7th, 2009 on 12:41 PM
hooh ^_^
August 6th, 2009 on 10:10 PM
fiksi yang di angkat dari kisah nyata orang lain dan di sambungkan dengan tragedi pesawat yang ilang. sungguh imajinasi yang luar biasa…..*bener gak tuh* ha ha ha
#EKA
fiksi nya bener, nah kisah nyata?
mungkin ada tapi gue gak mengalami langsung siy
ato jgn2 lu ye yg hamilin si maya ha? =))
August 6th, 2009 on 10:12 PM
amiennn….semoga selamat sampai tujuan om luigi
#EKA
kalo dia luigi,
barti lu mario nya?
August 6th, 2009 on 10:13 PM
yukzz mareee….
sari.,.jalan2 yukzzz kekekekekekekek
#EKA
geniiiit deh,
flirting di blog gue hahahaha
August 6th, 2009 on 11:21 PM
Hahaha.. abis khan udah tamaaatt.. berhubung masih nggegantung jadi mending nanya langsung ama sang penulis gimana sang bunda menjawab pertanyaan si Vanya itu, ahahaha ^o^
#EKA
nah.. gimana kalo pertanyaannya lu aja yg jawab hehehe
August 7th, 2009 on 10:02 AM
Tidak tepat lewat depan rumah juga sih, tapi di perempatannya. RS Bhayangkara Polda kan berada satu komplex dengan rumah saya di KPR Polda. Ada 20 kantong berisi 15 jenazah, soalnya pada tercerai berai di lokasi kecelakaan, baru dirangkai2 di RS. Tadi pagi sudah pada diberangkatkan ke tempat pemakaman masing2. Kebetulan mobil kargo saya pas jalan didepan konvoi mobil jenazah yang ke arah gudang bandara. BTW kenapa ngeri? (o_0)”\
#EKA
gue selalu gak nyaman aja deket jenazah… entah kenapa…
seolah masih merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa..
euuuuh..
August 7th, 2009 on 12:21 PM
lebih baik menghindari rangsangan daripada pake kontrasespi, kan belum haknya ha ha ha ha
August 7th, 2009 on 12:22 PM
huakakakakakakkk….mari kenthir
August 7th, 2009 on 12:23 PM
huakakakkakkk…kalo mayanya cakep dan jadi pramugari gt, ngaku aja deh walaupun bukan pelakunya kekekekekkk
August 7th, 2009 on 12:28 PM
amieeennnnnnn….
August 7th, 2009 on 12:30 PM
hikzzz hikzz hikzzz…di bantuin nangis yah he2
August 7th, 2009 on 12:32 PM
kalo mau yang happy ending harus bikin cerpen
“Vanya di antara bunda maya dan papa sinting” kekekekekkkk
August 7th, 2009 on 12:33 PM
*pukkk pukkkk pukkk, tepuk tangan*
August 7th, 2009 on 12:34 PM
namanya juga skenario sob ^_^
kehidupan nyata aja dah di skenariokan oleh sang pemberi kehidupan
*cieeee cocok jadi pembicara niy* kekekeekkkkk
August 7th, 2009 on 12:36 PM
yukzzz mareeee…
mas indra ketauan, suka memulai dari belakang kekekekekekk
August 7th, 2009 on 12:37 PM
tariiikk maaangggg….yukzzzzz
August 7th, 2009 on 12:39 PM
hayoyooo…tamat apanya???
yang nulis tamat yak???
yang baca udah tamat belum???
kok gak sedih siy??? ha ha ha
August 7th, 2009 on 12:40 PM
huakakkakak,….maklum mbak *eheemm ehemmm*
cuman godain aja kok…sapa tau di senyumin hi hi hi