Pelan saya membuka sampul amplop berwarna putih dengan garis biru di ujungnya itu. Dan lagi – lagi saya terkesiap, persis seperti 3 bulan sebelumnya. Barisan angka yang tertera membuat nafsu makan langsung hilang, ayam bakar mbok nderek pun terasa hambar. Anyep. Seanyep pikiran ini. Sekali lagi mata ini melirik kertas tagihan kartu kredit, dan sekali lagi nafas terhela. Bulan lalu angkanya masih 7.450.234 kenapa sekarang jadi 8.450.234 ?! Padahal tenggat tempo kemarin saya sudah membayar minimummya sebesar tujuh ratus ribu ! Bukannya berkurang kenapa malah nambaaaah??? Padahal gak belanja apa – apa lagi… Kepala ini pusing, gimana bayarnya? Pake apa? Pake daun? Aaaargh, persetan ! Segera saya raih ponsel dan begitu tersambung langsung nyerocos,”Say, temenin belanja yuuuks !”
Ditemani beberapa sobat yang juga gila belanja, kalap memborong beberapa tas model terbaru dengan warna berbeda. Tas coklat cocok nemenin sepatu motif loreng macan, yang warna putih bagus di pakai ke gereja dengan kemeja putih, yang berwana merah bisa ikut meramaikan bulan Agustus. Saya tersenyum puas. 3 tas dan 3 pasang sepatu belum lagi beberapa aksesori seperti kalung mutiara imitasi (yang walaupun imitasi harganya 500 ribu perak cin !), beberapa gelang juga anting – anting. Yak, belanja dua jam sukses membuat tagihan uang plastik bercokol diatas 10juta… Sinting ! 10 JUTA SAHAJA.
Hari – hari yang benar – benar kontras. Awal bulan foya – foya, tengah bulan kelimpungan membaca tagihan yang dikirim ke rumah, kepala nyut-nyutan melihat angkanya. Stress. Namun semakin stress malah semakin kalap belanja, semakin sering gaul, hang out kemana – mana. Dari luar tampak glamour with the latest mode of fashion, sepatu kinclong gonta – ganti sesuai warna kuteks, tapi aslinya? Kere abiiis ! Lha wong akhir bulan cuma mampu membayar tagihan kartu kredit sejumlah minimumnya saja. Tabungan gak punya apalagi aset ! (baca : aset pribadi, bukan ortu lho) Gaji habis buat biaya gaul yang tinggi itu. Bagi sebagian teman mungkin tagihan sepuluh juta adalah biasa, tapi buat saya?? Itu luaaar biasaaa !! Apalagi itu di tahun 2006, ketika laju inflasi belum seperti sekarang ini. Angka sepuluh juta itu terasa besar. Dan ketika tagihan itu sudah bermain di angka 10 juta, ketika ponsel berdering oleh para penagih yang mulutnya lebih berbisa daripada ular, ketika tidur sudah tak nyenyak lagi, ketika itu rasanya mau gila !
Jadi harus bagaimana???? Bicara terus terang ke orang tua bukan pilihan bagus, bisa – bisa ceramahnya gak selesai seumur hidup. Plus resiko dijadikan senjata untuk nantinya diungkit – ungkit. Aouuuch males banget gak sih. Ngomong sama pacar? Haduuuh gengsi… Iya kalau mau membantu, nah kalau penilaiannya berubah gimana? “Lha sekarang aja sudah boros luar biasa, gimana kalau jadi istri?” OK, boyfriend wasn’t an option too. Tak mungkin saya mengorbankan investasi jangka panjang hidup ongkang – ongkang kaki dibayari suami dengan keterusterangan berjumlah sepuluh juta ini
. Saya ingin bertanggung jawab akan perbuatan bodoh ini.
Anyway, terbantu dengan sebuah siaran di radio yang membahas mengenai kemerdekaan dalam keuangan, saya mengikuti semua sarannya. Selama setahun saya memangkas semua pengeluaran. Tidak mudah, dari yang biasanya makan diluar jadi minta ditraktir bawa lunch dari rumah. Dari yang sering nongkrong di warung kopi jadi nyeduh kopi sendiri. Gaya hidup berubah drastis ! Namun tekad ini begitu kuat, harus lepas dari belitan hutang dan bunga kartu kredit yang tak masuk akal sehingga saya ikhlas menjalani. Tidak ada baju, tas atau aksesoris baru selama setahun (imagine that !). Saya menjadi orang yang suangaaat kalkulatif (bukan pelit), semua pengeluaran di catat, bahkan parkir yang seribu lima ratus perak itu juga tercatat rapi. Dari situ saya menganalisa pengeluaran terbesar saya untuk apa, dan melihat mana yang bisa dipangkas. Akhirnya mimpi buruk itu pun selesai setelah setahun. Hutang hilang dan sudah punya tabungan beberapa kali besaran gaji.
Itu adalah kejadian di bulan Agustus 2006. Kala itu saya salah pergaulan. Bermain dengan anak – anak “the have” yang biasa lunch ke hotel bintang lima, yang menganggap tas seharga satu juta itu adalah barang murah, yang sewa kos-kos.annya saja sama dengan 3x UMR Jakarta (kos lho… bukan apartment, jadi kebayang kan gimana lux.nya). Bukan salah mereka saya punya utang bertumpuk, bukan salah teman – teman itu saya gila belanja barang bermerk, itu semua JELAS salah saya. Kan saya yang mau terlihat bergengsi dengan semua barang mewah dan serba matching. Saya juga yang mau terlihat “the have” padahal “don’t have” the capacity. Mereka benar – benar gak salah, wong mereka mampu. Beruntung, saya cepat tersadar. Saya tidak menyesal, justru bersyukur, ada pelajaran berharga yang saya petik. Saya tidak antipati terhadap kartu kredit karena memang berguna ketika tahu bagaimana menggunakannya. Saya tetap punya uang plastik, tapi tidak untuk macam – macam. Saya tetap gesek, tapi saya tahu akhir bulan saya punya uang untuk membayarnya. Terlebih penting, saya menjadi diri saya sendiri. Bangga dengan apa yang ada, tidak berusaha mati-matian hingga besar pasak daripada tiang demi penampilan. Ini saya sekarang.
Tulisan ini saya buat sebagai refleksi atas kekhilafan masa lalu yang telah menjadi pembelajaran penting buat saya dalam hal keuangan. Mari hidup apa adanya dan jauhi hutang




semua ada harganya
#EKA
tapi jgn sampe ngutang hehehe
hueheheeh film Confessions of a Shopaholic versi Indonesia
#EKA
hahahaha gak separah itu koq
Aku banyak utang, bukan karna beli ini n itu… Malahan jarang banget tuh, beli2 barang2 gitu….hehe
Disamping gak seberapa suka, juga karna emang udah bokek dari sononya….hahaha
salam hangat dan damai selalu…
#EKA
Trus banyak utangnya karena and buat apaan mas?
cieeh.. anak gaul ya Kak?
#EKA
huahahahah
katanya begituuu
.-= Shanty´s last blog ..Wish i could win the tiara.. =-.
Duileeee… sekarang ada berapa uang plastik di dompet kak? hihi
#EKA
Beberapa hehehe
.-= Shanty´s last blog ..Commenista =-.
wow, amat dahsyat…
pas kata “imagine that” jujur gak berani dan bener-bener gak berani buat ngebayanginnya. anyway, by the way, it,s ok… inilah hidup, kadang butuh waktu lama/pendek untuk menyadari sesuatu. Salut…
#EKA
Thank u
jgn dibayangin ya…jgn sampe pula ngerasain hhehe
.-= kesepian´s last blog ..Status Suspend Di Blogvertise. =-.
hmm… nice posting, bisa jadi warning bagi gw spy tdk “nyemplung” ke lubang yg sama
uang plastik, paling aku gunakan waktu travelling aja
lha wong di sini sangat sedikit yg bisa dibayar pake uang plastik
makasih ya Eka, udah ngingetin lubang di depan mata …
#EKA
Sama2 bro..
Postingan ini sekaligus reminder buat saya pribadi
syukur2 bisa ada yg ambil hikmahnya hehehe
.-= Bro Neo´s last blog ..Just wanna say… =-.
hmh…terakhir kali punya uang plastik sekitar 2008, itu juga karena fasilitas dari kantor yang baru dipake sekali pas dibalikin, dan pembayarannya full. hehehehe, abis itu, udah ga pake lagi. makin parno mo apply pas ada kejadian nyata di depan mata, ada orang yang kudu ngutang demi nutupin hutang uang plastiknya yang jumlahnya ada enam dengan jumlah total 38juta ajaaaaaaaa…..huhuhuhu……seremmm..nutup utang dengan utang.
#EKA
waaaks itu parah sekali
tapi sekaligus memperingatkan kita untuk berhati – hati menggunakannya
.-= frozzy´s last blog ..PERTARUNGAN =-.
jadi inget ceritanya sophie kinsela ya ka hihihi..
but the good point is learning from a mistake..
#EKA
Setuju uni
eeeh gue gak sampe kayak si sophie kinsela itu deh mbak..
dia mah kelas kakap hahaha
.-= Ade´s last blog ..Marhaban Ya Ramadhan =-.
disini yang megang peranan penting ya self control ya…
uang plastik bisa jadi alat yang sangat membantu banget dan bahkan menguntungkan, tapi kalo gak ada self control ya bisa jadi bumerang yang berbahaya…
.-= arman´s last blog ..Saw VI =-.
Mirip kisah film shopaholic ya kak..
Share yang bagus kak..
Mengendalikan diri emang susah, tapi kalo kita niat pasti bisa..
Thanks kak
#EKA
Yup !
Selama ada niat pasti bisa
.-= Gloria´s last blog ..Apakah Stress Berkurang Dgn Mengeluh? =-.
Ping-balik: NO Credit Cards : ceritaeka.com
Aku kebalikannya Eka, setiap beli berhitung dulu, apa fungsinya.
Karena yang bagus dipake orang, belum tentu bagus saya pakai. Lagi pula saya bekerja dibidang keuangan, yang bajunya itu2 aja..paling2 warna dasar hitam, cream, coklat. Dan sepatu pun tak bervariasi…
Selain itu karena pergi pagi pulang malam, badan udah lelah, dan akhir pekan untuk anak-anak..jadi saya tak tergoda untuk belanja karena memang tak punya waktu.
#EKA
Sekarang saya juga begitu bunda…setelah insiden dengan CC yang sangat menampar hati ini… segala sesuatu jadi diperhitungkan dahulu…
benar2 kalo punya utang trus si penagih utangnya ngejar2 berasa hidup ini gak merdeka…
tapi, kalo gak punya utang .. ga seru juga.. hidup ga ada tantangannya…
#EKA
Huahahha
saya memilih tantangan dari hal lain aja pak…
bukan dari debt colector deh hihihi
Cerita-ceritanya semakin bermanfaat.
Belum punya kartu kredit, dan bertekad ntar tidak akan memiliki kartu kredit.
Lebih bagus kartu debit.
#EKA
Sebenernya kartu kredit ada manfaatnya juga
tapi ya kalau memang sudah prinsip gak mau pake CC
monggo diteruskan
Perlakukan kartu kredit dengan bijaksana. Bayar selalu dengan ‘full payment’. Artinya uang cash memang sudah ada, tapi kita pakai cc untuk kepraktisan.
salam,
yanky dk
#EKA
Setuju sekali, pakai cc untuk kepraktisannya saja bukan alat berhutang
.-= Novel “Bencana Jawa 2011″´s last blog ..MEMPERKENALKAN- NOVEL BENCANA JAWA 2011 =-.
walahhhhhh inspiratif mbak…
karena dulu aku pernah ngalaminnya, tapi untungnya bukan buat foya2 tapi buat kebutuhan…habis daku pikir dari pada minjem orang mendingan minjem di bank…alhmdulillah sekarang sudah teratasi semua…Thanks GOD!!!
investasi jangka panjang jangan lah ditukar dengan uang plastik…huheheheheh bisa2 di depak
#EKA
Bunganya uang plastik itu mencekik banget !
.-= Ria´s last blog ..What I’ve Got after 3 Years =-.