Rumah Tetirah

Pagi itu bukan pagi biasa, karena putaran takdir membawaku melalui sebuah jalan asing yang tak terduga. Melewati salah satu daerah Menteng Jakarta Pusat, silau lampu pengatur lalu lintas berpendar merah dan memaksaku untuk berhenti sesaat. Kulemparkan pandang ke kiri dan hatiku berdegub lebih kencang dari biasanya. Bukan, bukan karena aku melihat mantan pacar atau suamiku bersama orang lain. Bukan. Aku terpana. Mata ini terbelalak melihat keanggunan sebuah rumah kuno model Belanda dengan pagar tempus pandang, halamannya luas memesona. Engkau tentu tahu, betapa aku selalu merindukan rumah dengan pekarangan luas menghadap ke timur. Bukankah pernah kutuliskan disini dulu?

Ditengah sempitnya menit dan detik pagi berkejaran, aku turun. Sejenak berhenti dan memandangi rumah besar yang halamannya diselimuti hijau rerumput, yang tamannya meriah dengan wewarna dan wangi bunga, yang terasnya elok bermandikan cahaya mentari. Didepanku berdiri rumah yang aku impikan dalam wujud nyata. Aku tertawan elegi keindahan.

Rumah Impian - Rumah Tetirah.
Rumah Impian

Entah apa yang ada di otak ini, aku melangkahkan kaki di jalan setapak pekarangan rumah cantik itu, melewati bangku taman putih sebelum sampai di depan pintu. Aku tidak tahu pemiliknya apalagi kenal. Tapi aku ingin bertemu dengan penghuni rumah yang mampu menata istana seperti ini. Jika beruntung mengajaknya bercakap – cakap walau barang sekejap. Ku tarik nafas panjang sebelum mengetuk daun pintu, kalau tidak disangka gila, paling diusir. Begitu batinku menyemangati nyali yang sedikit kendur.

Jalan Setapak dan Bangku Taman
Jalan Setapak dan Bangku Taman

Disambut seorang ibu sepuh di kursi roda, aku diarahkan ke ruang tengah. Kearifan jelas terpancar dari wajah bulat yang masih menyinarkan sisa – sisa kecantikan muda dulu. Senyum manis terkembang setelah kuutarakan niat singgah. Ramah beliau menyilahkan duduk di sofa beludru merah hati dari jati tua. Kami bicara tentang indahnya rumah ini, yang ternyata telah ditempatinya dari 52 tahun lalu. Tentang beningnya kristal – kristal yang menghiasi setiap meja. Dinding dipercantik dengan pigura dan pajangan keramik. Seluruh ruangan tertata apik dengan perabot antik. Resik, tak ada debu yang terlihat. Setiap sudut dipermanis dengan kelopak segar kembang sepatu dan sedikit dedaun hijau. Seluruh ruangan menghasilkan aura positif. Ada hangat keluarga disini. Asri.

Interior
Perabot dan Interior Rumah

Jika Tuhan memberiku rejeki, jika Tuhan menganugerahi aku rumah seperti ini, tidak ada sedikitpun yang akan kuubah. Panggil aku aneh, sebut aku jadul. Tapi seleraku memang begitu. Aku menyukai semua perabot yang berusia lebih dari 50 tahun itu. Ada banyak cerita dan kenangan yang terpatri disitu. Siapakah yang menghargai sejarah, jika bukan kita? Aku tertunduk kelu. Banyak “jika” yang berterbangan dikepala. Dan eyang, begitu aku memanggilnya, seolah dapat membaca pikiran ini.

“Yen temen tinemenan,” gumamnya pelan.

“Apa artinya Eyang?” tanyaku.

“Teruslah berharap, dengungkan cita-citamu dan peliharalah terus nyala api keinginan tersebut. Niscaya itu akan datang kepadamu.”

Aku tersenyum, teringat kata pujangga hebat Paulo Coelho; “Jika engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bekerjasama membantumu untuk mewujudkannya.” Tak jauh beda dengan apa yang barusan Eyang katakan, hanya redaksinya saja yang sedikit lain.

Eyang melanjutkan kata-katanya, “Eka, namun jika Tuhan tak berkehendak memberi yang kamu mau, maka jangan berkecil hati. Rangkailah semua yang ada di dekatmu, jadikan rumahmu nanti yang paling indah dari lingkungan sekeliling. Hiasi pekarangan dengan bunga, rawat dengan cinta. Jadi wanita harus kreatif. Setuhan wanitalah yang menjadikan sebuah rumah menjadi hidup.”

Mendengar untaian kalimat bijak itu, mataku berkaca – kaca. Ya Allah jadikan aku wanita, istri dan ibu yang bijaksana menata rumah (tangga). Melihat rumah ini, teringat sebuah sajak yang kutulis beberapa waktu lalu.

Sanctuary

Rumahku adalah kumpulan cinta

Siapapun boleh singgah disana

Wangi terbuai, mayang terurai

Diberanda, sayang pun bersemai

Berselempang asa, juga kadar percaya

Meresapi arti pulang sesungguhnya

Perkakas dapur, ragam furnitur

Diruang jiwa silahkan terpekur

Semua selubung, luruh terjatuh

Disini duduk diam bersimpuh

Nikmati imaji, dihantarkan janji

Reguk madu, puaskan rindu

Menyegarkan kosong dalam kalbu

Dengan hangat cumbu

Rumahku adalah kumpulan cinta

Tempat semua kembali pulang

rasakan hakikat keluarga.

Eka Situmorang-Sir

Aug 2009

Begitulah rumah bagiku, tak hanya bangunan fisik namun juga tempat yang selalu memanggil pulang penghuninya. Rumah tetirah, tempat peristirahatan sekaligus perlindungan. Dimana gulana kan hilang, hangat cinta senantiasa merengkuh jiwa. Tak perlu besar tapi jika diberi rejeki tentu diterima dengan senang hati namun rapi, indah dan resik. Sejatinya bukanlah bangunan yang membuat sebuah rumah itu nyaman dan indah, tapi keelokan hati penghuninya.

Tak terasa sekian waktu kuhabiskan bercengkerama dengan Enyang sang empunya rumah. Ku lirik jam tangan yang melingkar. Ooouuch, seperti tertusuk duri ! Seharusnya pantat ini sudah duduk manis di balik layar komputer sejak satu jam lalu. Aku pun pamit. Ketika menjabat tangannya, eyang bertanya, “bolehkah aku menciummu, Eka?”. Kusorongkan wajah, dan Eyang pun mencium pipi kemudian merangkulku. Sampai disana aku diam tak bergerak, membiarkan Eyang menikmati detak jantungku. Kami tidak pernah kenal sebelumnya, dua manusia beda generasi berbagi rasa di suatu pagi. Tidak kebetulan aku bertandang ke sana. Kemudian aku undur diri setelah mencium lembut tangan beliau. Ku dengar ia berbisik, “sering – sering ke sini ya,” dan aku pun mengangguk.

Ada rasa lain di dada, tak menyesal satu jam aku habiskan bersama eyang Sudiyono walau selusin pesan pendek dan panggilan tak terjawab memenuhi ponsel. Ku menoleh sekali lagi dan kulambaikan tangan kepada Eyang. Beliau tersenyum melepasku.

Rumah Tetirahku
Rumah Tetirahku

Sesampai di kantor, aku berselancar di dunia maya. Ku lihat di http://propertykita.com rumah Eyang memang sedang ditawarkan. Aku hanya berharap, siapa pun nanti yang membelinya, semoga mereka dapat merawat rumah nan indah tersebut. Kalau pun ternyata dipugar, pun aku disini bersyukur, pernah menikmati setiap inci rumah elok itu sekaligus mendapatkan perkenalan dan mendengarkan beberapa falsafah baru. Yen temen tinemenan…Juga kreatif dalam segala hal. Senyum puas bergelanyut di wajah, pagi ini aku diberi berkah melihat bagaimana rumah impianku nanti.

Sahabat, seperti apakah rumah impianmu ?

Puji Tuhan, tulisan ini memenangkan Blogging Competition 2009 dari Propertykita.com. Reportase malam pengumumannya dapat dibaca disini.

*Semua foto adalah koleksi saya pribadi, yang dipublikasikan atas seijin Eyang Sudiyono-pemilik rumah.

Tentang Ceritaeka

A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Catatan ini telah ditulis dalam REFLECTION, Sajak - Puisi - Poetry dan di-tag dengan , , . Penunjuk permalink.

152 Respon untuk Rumah Tetirah

  1. nice blog… dear…

    exchange link to me OK….. confirm to me

  2. Ping-balik: Bersabar dalam Kebaikan « alonrider

  3. 3 bidadari berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Keren abizzz ceritanya, ditunggu artikel yang lainnya, selamat yah…..

    Wassalamu’alaikum,

  4. adedoank8 berkata:

    hallo bloger, saya bloger baru!!!
    tolong ajarin saya ia?
    http://adedoank8.wordpress.com/

  5. Juli Ardani berkata:

    Wah kegemaran kita pada rumah2 lama sama ya..cuma di daerah sya kurang terwat ntah krn pemda kurang peduli ato masyarakat yg ga mau tau, sedih sih…btw eyangnya masih sehat sampe sekarang??? salam kenal ya…

  6. sewa elf berkata:

    Wah….rumahnya bagus sekali…thanks

  7. Gita Sonya Margareta Soedjito berkata:

    Subhanallah…. saya juga terperanjat ketika googling dan menemukan blok mbak.

    Rumah yang mbak maksud adalah total 100% sama seperti rumah idaman saya. Saya ad beberapa pernah melihat serupa di kawasan jalan Ijen di Malang, Jawa Timur sewaktu saya masih kuliah dulu.

    Satu-satunya yang saya suka dari rumah model tersebut adalah aura kehangatan dan kesahajaannya.
    sangat ideal memang didalamnya terisi barang-barang antik dan tanaman-tanaman sederhana lainnya. Tanaman2 sederhana (bahkan sering bukan tanaman mahal) namun terasa indah saja mata say (khusunya) melihatnya… nampak bersahaja…. ^_^. Banyak yang tak terungkap dengan kata untuk rumah seperti itu… ^_~

    Salam kenal,
    Gita Sonya Margareta Soedjito

  8. tips beli rumah berkata:

    beli aja rumahnya……mudah”an semuanya mendapatkan yang terbaik n…

  9. d4li berkata:

    Bagus banget post-nya…jadi sedikit mellow niy bacanya
    great post..keep it up!

  10. ardansirodjuddin berkata:

    Tulisan yang bagus

  11. yanagenicisyana berkata:

    mba eka.. aku ijin quote tulisannya ya.. :)

    thank you..

  12. Berry Devanda berkata:

    selamat atas juaranya ya mbak…
    barusan tau dari bloknya pak de…
    hebring mbak eka pokoknya deh…
    salam…
    .-= Berry Devanda´s last blog ..MENGOLOK MALAIKAT MAUT =-.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s