Vanya Bertanya (2)

Kisah sebelumnya :

Karena pergaulannya yang terlewat bebas, sepupuku Maya yang masih SMA hamil diluar nikah. Tante Febri, ibunda Maya, yang notabene masih tanteku, tidak menghendaki Maya mengasuh bayinya karena itu berarti mecoreng nama keluarga besar. Memberi aib. Namun sebenarnya alasan utama adalah jika Maya mengasuh bayinya maka ia harus berhenti sekolah. Dan itu sama saja mengubur impian tante Febri untuk menjadikan Maya seorang dokter. Mana bisa kuliah kedokteran kalau SMA saja tidak lulus kan? Aku dan suamiku di pasrahi mengasuh Vanya, bayi Maya dan Ivan pacarnya. Bagaimana kehidupan Vanya dalam pengasuhanku? Bagaimana kisah hidup Maya?

————————–

“Aku akan menjaganya Maya, aku berjanji bahwa Vanya akan kujaga sebaik mungkin, akan kulimpahi cinta dan kudidik dengan kasih,” gumamku pelan. Entah Maya dapat mendengarnya atau tidak

“Mbak…. titip Vanya ya,” hanya itu kata-katanya dan ia pun bergegas pergi. Ku dengar tangis pilu Maya dari kejauhan. Seiring dengan kepergiannya, tangis Vanya terdengar kian keras. Aku berusaha menenangkan Vanya dengan menimang – nimang lembut. Oh Vanya, Vanya sayang… walaupun aku bukan ibu biologismu, namun kau akan akan kujaga bahkan dengan nyawaku sendiri, bisikku lirih.

.

Kehadiran Vanya merubah hidup rumah tanggaku yang sepi tanpa gurau balita. Keceriannya adalah obat lelahku setelah mengajar, rasa ingin tahunya menggugah semangatku untuk terus belajar dan menjawab pertanyan – pertanyaan tak terduganya. Senyum polosnya, tingkah lucunya, pertumbuhannya, melecut aku dan suamiku untuk bekerja lebih giat demi masa depan yang terjamin. Vanya tumbuh menjadi anak periang yang tidak manja. Dan aku bangga sekali. Ketika aku sibuk dengan koreksi ujian mahasiswa – mahasiswaku, Vanya akan ikut – ikutan duduk berkacamata plastik, mengambil kertas dan pura – pura serius dengan kertas kosong putih di depannya. Menggemaskan ! Ah, ia tengah meledekku rupanya; minta diajak main atau bercanda. Kalau sudah begitu, pasti kutinggalkan tumpukan kertas jawaban itu, langsung menggendong dan menggelitikinya. Tak apa nanti malam aku bergadang mengoreksi itu semua. Ah Vanya, kamu cantik juga cerdas. Engkau adalah cahaya di rumah ini, pembawa sukacita.

.

birthday cake

Birthday Cake

Ketika ulang tahun Vanya yang ketiga, Maya datang menjenguk untuk kali pertama. Ada rasa risau di dada, akankah Vanya berpaling dariku, akankah Maya mengambilnya. Sekarang Maya sudah bekerja. Selepas SMA ia menolak untuk kuliah, ingin cepat dapat uang katanya. Seluruh keluarga apalagi tante Febri berang oleh kekeraskepalaannya. Kandas sudah impian tante Febri mempunyai anak seorang dokter. Namun aku dapat memahami Maya, ia ingin cepat mandiri agar tidak bisa disetir lagi oleh tante Febri. Postur tubuh dan wajah manis Maya adalah modal utama ditambah lagi ia cerdas. Tanpa kesulitan ia diterima bekerja di perusahaan penerbangan sebagai pramugari. Dan sekarang ia datang. Aku kuatir kebahagiaanku akan terenggut. Seusai pesta, Maya menghampiriku.

” Mbak, Vanya cantik sekali. Mbak dan Mas merawatnya dengan baik. Tidak salah Maya mempercayakan Vanya kepada Mbak.”

“Aku menjaga janjiku padamu May,” ucapku pendek dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Semoga Maya tidak membaca kerisauan hatiku, doaku dalam hati.

“Mbak gak perlu kuatir, Maya gak akan mengambil Vanya dari mbak. Ia bahagia sekali disini, Maya tak mau membuatnya bingung. Maya sudah puas dengan melihatnya tumbuh baik. Di hati Vanya, mbak adalah bundanya. Mbak yang bangun tengah malam mengganti popoknya, yang mengajarinya berjalan. Sedangkan Maya cuma ibu yang melahirkan saja, tidak lebih. Ikatan antara mbak dan Vanya sudahlah sangat kuat. Maya bisa lihat dari binar mata Vanya ketika ia berlari mencari mbak tadi.”

Kata – kata Maya seperti embun sejuk yang mengguyur hati, tak ku sangka Maya sedemikian bijak. Ia memilih untuk diam agar kejiwaan Vanya tak terganggu. Dan kami pun berpelukan.

.

“Kamu boleh datang kapan saja kamu mau May,” hanya itu jawabku. Tentu basi – basi saja. Mana rela hati ini melihat Maya dekat – dekat dengan buah hatiku.

.

Namun apa lacur, semenjak itu Maya adalah pengunjung tetap kediamanku, tentu saja jika tidak ada jadwal terbang. Sesibuk – sibuknya, minimal sebulan sekali akan ia sempatkan menengok Vanya. Ia sering memberikan Vanya bermacam hadiah dan mengajaknya bercanda. Mereka sungguh akrab, dan itu membuatku resah. Walau aku yang membesarkan Vanya, namun tak dapat dipungkiri Maya adalah ibu kandungnya. Bukankah darah lebih kental daripada air? Maya memang pernah berjanji tak akan mengambil Vanya dariku namun kemungkinan itu tetap terbuka lebar. Bukankah dulu dia bilang titip Vanya. Titip. Menitipkan berarti suatu saat akan diambil. Aku takut.

————————–

Apakah Maya akan tetap memegang janjinya? Ataukah ia akan mengingkarinya? Dan, apakah yang menjadi pertanyaan Vanya sesungguhnya?

BERSAMBUNG

Tentang Ceritaeka

A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Catatan ini telah ditulis dalam Cerpen dan di-tag dengan , . Penunjuk permalink.

28 Respon untuk Vanya Bertanya (2)

  1. mudah2an sang tokoh mbak dan juga maya, ga ada konflik rebutan vanya ya..

    kasian, dia masih kecil

    #EKA
    liat aja nanti :)

  2. Ikkyu_san berkata:

    wah aku kalau menjadi si mbak juga akan was was jika Vanya diambil kembali oleh Maya …
    padahal sebetulnya kalau kita cinta Vanya seharusnya memberikan yang terbaik
    termasuk kehilangan dia ya ….

    EM

    #EKA
    jalan pikiran orang susah ditebak mbak :)

  3. Indah berkata:

    Vanyaaaa.. penasaran neehh.. mo nanya apaan seeh? :D

    #EKA
    ada di seri berikutnya :)

  4. ami berkata:

    hiiiiih bikin penasaran aja nih

    #EKA
    Monggo dilanjut ke yang ketiga :)

  5. arman berkata:

    Jadi was was terus ya… Tp sebenernya udh diadopsi resmi gak ya? Harusnya diadopsi resmi biar gak khawatir diambil balik ya…

    Ditunggu sambungannya!

    #EKA
    heeem… kalo di Indo…
    adopsi resmi kan jarang…

  6. dela berkata:

    gimanapun maya kan ibu kandungnya ya ga si??

    #EKA
    Memang ibu kandungnya :)

  7. yustha tt berkata:

    Mau nanya apa nak??
    Hah?? Nanya materi kuliah? Aduh nak, kebanyakan nemenin mama ngoreksi kerjaan mahasiswa jadi pinter km ya.. :-)

    #EKA
    itu terlalu jenius ;)
    kalo sampe nanya materi kuliah hehe

  8. Ade berkata:

    Setuju ma Arman, mendingan diadopsi resmi aja biar ga was2.. *eh, tapi ini kan fiksi yak hihihihi :lol: *

  9. nyegik berkata:

    waduh yang pertama belum aku baca….lihat dulu yang pertama akh

    #EKA
    Monggo silahkan

  10. Gandi Wibowo berkata:

    karena kali ini Gw udah tau ada yang part 3, jadi Sekarang ninggal jejak dulu aja :D

    LANJUT… KE.. PART 3…. meluncur…….

    #EKA
    Monggo.. silahkan :)

  11. Eru berkata:

    Hmm…
    konflik cinta titipan

    Vanya yang milih tah?

    * lanjut ke part 3 *

    #EKA
    Liat saja di episode berikutnya :)

  12. gwgw berkata:

    tuh apa gw bilang…si maya pasti akan ngerecokin lagi…..hhhuuuhhhh….gampang ditebak…
    **sambil emosi**

    #EKA
    sabaaar… :)

    • Zulhaq berkata:

      ah si om, tebakannya salah tuh. si maya kan hanya menjenguk sebagai wujud rasa tanggung jawab seoarang ibu yang telah melahirkan malaikat kecilnya ha ha ha

      #EKA
      kamanya juga tebakan si….
      bisa salah bisa bener :D
      kebetulan aja, lu sering benernya ahahhaha
      peace ya gwgw :D

  13. kucrit berkata:

    wah… telat nih… lanjut baca dulu… ke episod 3…..

    #EKA
    Monggo silahkan…

  14. Ria berkata:

    waduhhhh susah deh kalau begini.
    Maya gak salah, Ibu angkatnya Vanya juga gak salah….

    next……..

    #EKA
    bagai pedang bermata dua..
    gimana ya..?

  15. Hajier berkata:

    Jadi kacau kan semuanya…
    karena semua berhak untuk mendapatkan Vanya…
    Andai Vanya sudah bisa memilih, siapa yang kan di pilihnya, mbak?

    #EKA
    jawabannya ada di seri ke tiga mas :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s