Vanya Bertanya (1)

Serebrum otakku masih merekam dengan baik kejadian 5 tahun lalu di sofa ruang depan. Maya duduk menunduk sementara Tante Febri ibunda Maya terlihat tegang. Dalam dekapan Maya tidur bayi merah yang usianya tak lebih dari seminggu. Aku dan suamiku diam seribu bahasa, entah harus bersikap bagaimana. Dengan suara parau menahan tangis, Maya berkata lirih,” Mbak janji ya… pelihara anakku ini, tolong sayangi ia sepenuh hati.” Sampai disitu Maya tak kuasa melanjutkan kata – katanya, hanya bulir air mengalir deras dari pelupuk matanya.

.

“Namanya Vanya mbak. Mbak boleh memberinya nama apapun juga tapi tolong panggil ia Vanya,” ucap Maya lagi sambil merapikan kain merah muda yang membungkus si jabang bayi. Setelah mengambil nafas panjang, Maya pun berdiri dan berjalan melewati meja menuju ke arahku. Aku berdiri dalam kelu dan pandangan kami pun beradu. Ku lihat matanya berkaca – kaca, bibirnya jauh dari senyum. Sebentar kemudian kembali ia terbenam dalam wajah rembulan kecil yang dipanggilnya Vanya. Tak lekang mata Maya memandangi malaikat cantik yang ada digendongannya itu. Pelan Maya mengelus lembut rambut Vanya sambil sesegukan membendung banjir airmata yang terus mendesak keluar. Hatiku teriris sembilu melihat itu, ku lihat sorot mata seorang ibu yang tercabut jantungnya. Seorang ibu yang harus menyerahkan darah dagingnya sendiri, yang telah dikandungnya selama 39 minggu, yang dilahirkannya dengan rasa sakit luar biasa, dengan mengejan sekuat tenaga, dengan nyawa sebagai taruhannya ! Jika engkau adalah wanita yang mengandung – meskipun itu anak haram kata orang – mampukah engkau menyerahkan anakmu pada orang lain hanya untuk menjaga kehormatan nama keluarga? Mampukah ?

.

Maya masih terus mendekap bayinya dengan erat walaupun ia telah berdiri lama di depanku. Lagi – lagi bulir airmatanya jatuh, terlihat jelas berat baginya untuk berpisah dengan Vanya. Sembilan bulan 10 hari lamanya mereka beraktifitas bersama, bernafas bersama, memakan makanan yang sama, mendengarkan lagu yang sama, tentu telah terjalin suatu ikatan batin, rasa sayang antara ibu dan anak itu telah tumbuh. Hatiku hancur melihat itu, ingin ku tolak saja permintaan tante Febri untuk membesarkan Vanya. Sepupuku Maya yang masih duduk di kelas 2 SMA itu hamil akibat pacarannya yang bergaya bebas. Tante Febri tak rela jika ambisinya menjadikan Maya seorang dokter pupus karena Maya putus sekolah. Bahkan ketika Ivan, pacar Maya, datang bersama keluarganya hendak menikahi Maya, garang tante Febri mengusir mereka. Jika Maya menikah, tentulah nanti makin sulit bagi Maya bersekolah lagi karena ia harus mengurus bayinya. Mengingat alasan tante Febri bahwa jalan Maya masih panjang, ia masih harus sekolah, ku tepis keraguan itu. Lagian Maya boleh terus main kesini kalau ia kangen melihat Vanya, aku tak akan menghalanginya.

.

“Mbak…” panggil Maya sendu seraya menyerahkan bayi mungil itu. “Maya percaya pada mbak, Maya tahu mbak pasti mengasihi Vanya sepenuh hati,” katanya lagi dengan air mata berlinang. Aku menangis, dapat kurasakan perih hatinya. Ternyata bukan aku saja yang menangis, Vanya kecil yang sedari tadi terlelap tidur terbangun dan mulai merengek. Mungin Vanya tahu, bahwa ia tak lagi bersama dengan ibu yang selama ini memberinya kehidupan di dalam rahim, yang telah mengajaknya bercakap – cakap, yang telah melindunginya dari ancaman aborsi yang dulu diteriakkan seluruh keluarga besar. Mendengar jerit tangis Vanya di gendonganku, Maya lemas. Walaupun Maya tak berkata apa – apa tapi aku tahu. Aku tahu Maya ingin merengkuh Vanya kembali, memberinya kehangatan dalam dekap seorang ibu. Aku tahu karena itu adalah naluri seorang ibu ! Memastikan buah hatinya aman dan nyaman. Aku tahu ! Karena aku dapat merasakan kepedihannya, wajahnya terlihat begitu putus asa. Entah apa yang membuatnya mengurungkan tangannya yang hampir terjulur, padahal aku pun akan dengan rela mengembalikan Vanya. Tak tega aku melihat perpisahan ibu dan anak ini. Walaupun selama 7 tahun perkawinanku Tuhan belum menganugerahi anak, tapi getar kepedihan hati Maya terasa hingga kedalam sukmaku, menusuk – nusuk tulang.

“Aku akan menjaganya Maya, aku berjanji bahwa Vanya akan kujaga sebaik mungkin, akan kulimpahi cinta dan kudidik dengan kasih,” gumamku pelan. Entah Maya dapat mendengarnya atau tidak

“Mbak…. titip Vanya ya,” hanya itu kata-katanya dan ia pun bergegas pergi. Ku dengar tangis pilu Maya dari kejauhan. Seiring dengan kepergiannya, tangis Vanya terdengar kian keras. Aku berusaha menenangkan Vanya dengan menimang – nimang lembut. Oh Vanya, Vanya sayang… walaupun aku bukan ibu biologismu, namun kau akan akan kujaga bahkan dengan nyawaku sendiri, bisikku lirih.

———————

Bagaimana nasib Vanya berikutnya? Benarkah keputusan Maya memberikan Vanya kepada sepupunya ?

BERSAMBUNG

Tentang Ceritaeka

A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Catatan ini telah ditulis dalam Cerpen dan di-tag dengan , , , , , . Penunjuk permalink.

51 Respon untuk Vanya Bertanya (1)

  1. tuyi berkata:

    Oh….Vanya, kenapa nasibmu begitu….
    Bayi mungil tanpa dosa kenapa kau berikan Maya…?
    saya tunggu kisah selanjutnya Ka….?

    #EKA
    siap mang :)

  2. Indah Sitepu berkata:

    menunggu lanjutannya… ;)

    #EKA
    ada koq :)

  3. Wempi berkata:

    vanya bertanya “kapan dapat adek?”

    #EKA
    hehehe
    liat saja jawabannya di seri berikutnya :)

  4. omiyan berkata:

    Vanya, Fania, Femia sebuah nama yang sempet muncul untuk nama anak saya tapi akhirnya saya menjatuhkan nama kepada FANIA DAN FEMIA..

    tahu ga sosok seorang ibu sejati pasti akan selalu mengatakan walaupun aku bukan ibu biologismu, namun kau akan akan kujaga bahkan dengan nyawaku sendiri

    #EKA
    Oh gitu ya Om iyan ? Sempet mempertimbangkan nama Vanya juga….

  5. itempoeti berkata:

    bikin postingan kok mengharu biru…
    laki-laki juga bisa nangis hlooo… :(

    #EKA
    Maaafkan…. :(

  6. gwgw berkata:

    itu namanya cari enaknya sendiri…yg enak diambil yg gg enak ditinggal, lha terus yg dititipin yo kasihan banget . trus kalo dah gitu masih kasih syarat harus panggil namanya vanya…terus lagi kalo dah besar masih minta diakuin sebagai ortu…lha kalo gini ortu macam apaan ??
    kalo anaknya durhaka ama orang tua jangan disalahkan kalo ortunya kyk gini…biar tahu rassaaa !!! *gemes*
    kalo emang gg siap bikin anak yo pake kondom kek, atapu kontrasepsi kek atau jgn pernah ikutan gaya pergaulan sex bebas !, kalo ngesex aja 100 % setuju tapi giliran punya anak..anaknya di telantarkan..malah ada yg dibuang….gwgw paling marah kalo lihat kasus ginian…miris banget …
    apapun alasannya gwgw gg setuju…!! titik !! **dasar ortu yg gg punya hati**

    #EKA
    komemu paling panjang kayaknya ini (sementara, Zulhaq lom dateng soalnya ;) )
    cerita seperti ini nyata kehidupan sehari – hari :)

    • Zulhaq berkata:

      [gwgw]
      mendingan di buang ke kamar mandi ya om, gak merugikan siapapun. hanya ruginya, siapa tau yang di buang adalah calon presiden kekekekkkekekkk…..

      [Mbak Eka]
      gue datang dengan segala kesintingan. liat dunk yang paling panjang komnennya sapa
      komen penuh hati dan perasaan lembut seorang zulhaq yang ganteng ^_^

      oh ini, bukan kisah yang di alami langsung, tapi di ambil dari kisah nyata hari2. tadi sempat nanya. hanya memastikan aja siy…

      #EKA
      @gwgw : tuh dengerin kata Zulhaq… kalo yg lu buang calon presiden gimana :D

      @Zulhaq : soal panjang komen bukan ukuran, tapi kualitas yg penting ;
      aaah jd ada ide.. perlombaan komen berkualitas hahahaha

      • Zulhaq berkata:

        huakakakaka…sayang tuh kalo calon presiden

        huakakakkakak, perlombaan komen berkualitas, hadiahnya si imut atozzzz kekekekeke
        kan panjang dan berkualitas…lebih panjang lebih kerasa, lebih lama lebih mantap *apaan tuh* kekekekekkekekek

        #EKA
        es krim batangan…
        enak :D

  7. gwgw berkata:

    gwgw belom kelimaxx kasih koment nih……(mumpung zulhaq belum nongol..he..he..he…)
    pokoknya gwgw gg setuju ada ortu yg gg punya hati….!!!
    ingat yg dititipin tuh pasti akan punya keterikatan batin pada si anak, lha kalo keterikatan itu nantinya akan dirampas lagi…artinya ortu macam ginian menghancurkan perasaan dan kebahagiaan dua orang manusia, si ibu juga si anak ….apa gg keterlaluan ortu yg macan gini …!!

    ok gwgw dah kelimaxx…udahan ya….

    #EKA
    puas ? ;)
    Zulhaq dibawa- bawa hehehe

    • Zulhaq berkata:

      huakakakakak…gara gara pulang malam, komen kesalip
      tapi gak apa, toh dajh kelimaxxx juga. walaupun di ronde terakhir ekekekekekk

      om gwgw, gak boleh emosi. semua masalah itu harus diselesaikan dengan kepala dingin, tak ada kekerasan yang membawa kelembutan. yang ada, mahluk lembut membawa kekerasan *nah lo, yang keras apaan* kekekekekekekekkkk……

      saiah juga gak setuju, gak setuju kalo keluarganya aura kasih membuang anak kami huakakakakk

      salam sinting!!!!

      #EKA
      haiyaaah
      lu beda2 terus, dewi sandra lah, luna maya, skr aura kasih?
      ati2 raja singa ahhahaha

  8. Yessi berkata:

    hiks…sedih…pengen nangis…

    #EKA
    ini tisunya…

  9. mudah2an gue ga pernah nemuin hal ini dalam kehidupan nyata

    dilematis

    #EKA
    Jangan sampe… :)

  10. pakde berkata:

    Koq bersambung seeeeeeh… capek nulis nya ya…sini tak bantuin bikin tulisan di dari istana pakde. biar ngalir semua kata2nya…

    #EKA
    bener nih pakde?
    mau bantuin ?
    Gimana kalau bantuin beliin eskrim ajah :)

  11. Bonnita berkata:

    Nama ponakanku jg Vanya hehehe.. skrg jg jauh sama maminya, diasuh sama mami mertuaku krn maminya abis kecelakaan di lampung

    #EKA
    ooops i’m sorry to hear that
    semoga maminya Vanya ponakanmu cepet sembuh yah :)

  12. kejujurancinta berkata:

    Vanya…oh vanya….
    wes mbak, cepet buat lanjutannya
    uda banyak yg ndak sabar tu…

    hiks…hiks….

    #EKA
    oke bos ;)

  13. pargodungan berkata:

    Rasanya keputusannya itu tidak tepat. Tapi apalah yang bisa kuduga dari pikiran inang? Benarkah?

    #EKA
    kita liat aja nanti amang :)

  14. Ria berkata:

    sedih…. :(
    next click on Vanya 2

    belajar mencintai adalah belajar melupakan (dalam kasus vanya itu dia harus belajar ngerelain anaknya di urus sepupunya…kasian!!)

    #EKA
    hakekatnya hidup itu adalah pembelajaran yang tak pernah berhenti…

  15. Zulhaq berkata:

    akhirnya baca juga *lompat lompat, sambil nangis* he2…*loh nangins kok he2* hikzzzzzzz

    gue baca, ternyata dah lengkap 3 seri. tapi yang seri 2 dan 3 sengaja gak dibaca dl biar afdol. komen dulu disini, baru lanjut baca. kan ceritanya, mengikuti dari awal he he he *dasar sinting*

    Bertanya dulu sebelumnya, entah dapat jawaban langsung atau akan ada jawaban dari tulisan berikutnya. apakah ini kisah nyata atau sejenis cerpen mbak???

    komen komen komen *keburu di pentungin mbak eka pake pempersnya vanya* he2…
    Tanginsan vanya atas kepergian sang bunda maya, merupakan wujud dari ikatan bathin antara malaikan kecil dengan sang bunda, dan itu adalah suatu kuasa tuhan yang tidak bisa dipisahkan dair kehidupan yang sementara ini *halahh, sok tua*. betapa kejamnya keputusan dan keinginan keluarga, mengorbankan seorang malaikat cantik demi ingin melihat maya dengan masa depan yang mereka harpkan. tp, apakah pernah terpikirkan bagaiman perasaan maya??? apakah dia akan sanggup melanjutkan cita2, dibalik bathin yang tersiksa, dibalik hati yang merindukan kehangatan bersama vanya….

    oh, sungguh suatu keputusan yang keliru. pendidikan tetap bisa dilakukan dengan status menerima ivan menikahinya. yang penting, vanya memiliki orang tua utuh yang resmi, setelah itu pendidikan tetap dijalankan. entah, vanya di asuh atau gimana. kasih sayang seorang ibu adalah sesuatu yang tak bisa di gantikan dengan apapun. betapa sayangnya maya terhadapa malaikat kecilnya, sehingga keinginan keluarga untuk aborsi pun di tentang hingga malaikat itu keluar melihat indahnya dunia dengan tangisan khas-nya *oeeeekkkk oeeekk oeeekkkk*

    seadainya vanya bisa mengeluarkan kata-kata, dia akan berbisik lirih “bunda…vanya tak akan bisa jauh dari bunda…vanya ingin melihat kehangatan bunda bersama papa…vanya akan mandiri, membiarkan bunda menggapai cita-cita yang di inginkan keluarga…ketika bunda sudah menggapai cita-cita, vanyapun sudah bisa berbagi senyum dan kehangatan menjadi malaikat yang sudah tumbuh besar”….

    Kata vanya lagi…
    “Bunda…om zulhaq-pun begitu terharunya melihat kondisi ini. bagaimana dengan bunda??? bagaimana dengan papa yang walaupun vanya gak kenal??? bagiamana dengan mbak eka dan suaminya???

    Mbak Eka-pun berkata
    “iya vanya…om zulhaq itu, walaupun sinting, tapi dia punya perasaan yang sensitif juga untuk hal ini. makanya dia ganteng….

    Zulhaq pun berbisik lirih…
    “vanya….kamu harus semangat, tuhan punya rencana lain yang lebih baik buat kamu sang malikat kecil. sampaikan terimakasih pada tante eka….

    Salam sinting!!!

    #EKA
    Vanya….. kalo makan atau minum liat2 ya..
    jgn kayak om zulhaq.. kebanyakan mimun susu kuda liar
    jadi kena narsisme komplex :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s