Serebrum otakku masih merekam dengan baik kejadian 5 tahun lalu di sofa ruang depan. Maya duduk menunduk sementara Tante Febri ibunda Maya terlihat tegang. Dalam dekapan Maya tidur bayi merah yang usianya tak lebih dari seminggu. Aku dan suamiku diam seribu bahasa, entah harus bersikap bagaimana. Dengan suara parau menahan tangis, Maya berkata lirih,” Mbak janji ya… pelihara anakku ini, tolong sayangi ia sepenuh hati.” Sampai disitu Maya tak kuasa melanjutkan kata – katanya, hanya bulir air mengalir deras dari pelupuk matanya.
.
“Namanya Vanya mbak. Mbak boleh memberinya nama apapun juga tapi tolong panggil ia Vanya,” ucap Maya lagi sambil merapikan kain merah muda yang membungkus si jabang bayi. Setelah mengambil nafas panjang, Maya pun berdiri dan berjalan melewati meja menuju ke arahku. Aku berdiri dalam kelu dan pandangan kami pun beradu. Ku lihat matanya berkaca – kaca, bibirnya jauh dari senyum. Sebentar kemudian kembali ia terbenam dalam wajah rembulan kecil yang dipanggilnya Vanya. Tak lekang mata Maya memandangi malaikat cantik yang ada digendongannya itu. Pelan Maya mengelus lembut rambut Vanya sambil sesegukan membendung banjir airmata yang terus mendesak keluar. Hatiku teriris sembilu melihat itu, ku lihat sorot mata seorang ibu yang tercabut jantungnya. Seorang ibu yang harus menyerahkan darah dagingnya sendiri, yang telah dikandungnya selama 39 minggu, yang dilahirkannya dengan rasa sakit luar biasa, dengan mengejan sekuat tenaga, dengan nyawa sebagai taruhannya ! Jika engkau adalah wanita yang mengandung – meskipun itu anak haram kata orang – mampukah engkau menyerahkan anakmu pada orang lain hanya untuk menjaga kehormatan nama keluarga? Mampukah ?
.
Maya masih terus mendekap bayinya dengan erat walaupun ia telah berdiri lama di depanku. Lagi – lagi bulir airmatanya jatuh, terlihat jelas berat baginya untuk berpisah dengan Vanya. Sembilan bulan 10 hari lamanya mereka beraktifitas bersama, bernafas bersama, memakan makanan yang sama, mendengarkan lagu yang sama, tentu telah terjalin suatu ikatan batin, rasa sayang antara ibu dan anak itu telah tumbuh. Hatiku hancur melihat itu, ingin ku tolak saja permintaan tante Febri untuk membesarkan Vanya. Sepupuku Maya yang masih duduk di kelas 2 SMA itu hamil akibat pacarannya yang bergaya bebas. Tante Febri tak rela jika ambisinya menjadikan Maya seorang dokter pupus karena Maya putus sekolah. Bahkan ketika Ivan, pacar Maya, datang bersama keluarganya hendak menikahi Maya, garang tante Febri mengusir mereka. Jika Maya menikah, tentulah nanti makin sulit bagi Maya bersekolah lagi karena ia harus mengurus bayinya. Mengingat alasan tante Febri bahwa jalan Maya masih panjang, ia masih harus sekolah, ku tepis keraguan itu. Lagian Maya boleh terus main kesini kalau ia kangen melihat Vanya, aku tak akan menghalanginya.
.
“Mbak…” panggil Maya sendu seraya menyerahkan bayi mungil itu. “Maya percaya pada mbak, Maya tahu mbak pasti mengasihi Vanya sepenuh hati,” katanya lagi dengan air mata berlinang. Aku menangis, dapat kurasakan perih hatinya. Ternyata bukan aku saja yang menangis, Vanya kecil yang sedari tadi terlelap tidur terbangun dan mulai merengek. Mungin Vanya tahu, bahwa ia tak lagi bersama dengan ibu yang selama ini memberinya kehidupan di dalam rahim, yang telah mengajaknya bercakap – cakap, yang telah melindunginya dari ancaman aborsi yang dulu diteriakkan seluruh keluarga besar. Mendengar jerit tangis Vanya di gendonganku, Maya lemas. Walaupun Maya tak berkata apa – apa tapi aku tahu. Aku tahu Maya ingin merengkuh Vanya kembali, memberinya kehangatan dalam dekap seorang ibu. Aku tahu karena itu adalah naluri seorang ibu ! Memastikan buah hatinya aman dan nyaman. Aku tahu ! Karena aku dapat merasakan kepedihannya, wajahnya terlihat begitu putus asa. Entah apa yang membuatnya mengurungkan tangannya yang hampir terjulur, padahal aku pun akan dengan rela mengembalikan Vanya. Tak tega aku melihat perpisahan ibu dan anak ini. Walaupun selama 7 tahun perkawinanku Tuhan belum menganugerahi anak, tapi getar kepedihan hati Maya terasa hingga kedalam sukmaku, menusuk – nusuk tulang.
“Aku akan menjaganya Maya, aku berjanji bahwa Vanya akan kujaga sebaik mungkin, akan kulimpahi cinta dan kudidik dengan kasih,” gumamku pelan. Entah Maya dapat mendengarnya atau tidak
“Mbak…. titip Vanya ya,” hanya itu kata-katanya dan ia pun bergegas pergi. Ku dengar tangis pilu Maya dari kejauhan. Seiring dengan kepergiannya, tangis Vanya terdengar kian keras. Aku berusaha menenangkan Vanya dengan menimang – nimang lembut. Oh Vanya, Vanya sayang… walaupun aku bukan ibu biologismu, namun kau akan akan kujaga bahkan dengan nyawaku sendiri, bisikku lirih.
———————
Bagaimana nasib Vanya berikutnya? Benarkah keputusan Maya memberikan Vanya kepada sepupunya ?
BERSAMBUNG




Oh….Vanya, kenapa nasibmu begitu….
Bayi mungil tanpa dosa kenapa kau berikan Maya…?
saya tunggu kisah selanjutnya Ka….?
#EKA
siap mang
menunggu lanjutannya…
#EKA
ada koq
vanya bertanya “kapan dapat adek?”
#EKA
hehehe
liat saja jawabannya di seri berikutnya
Vanya, Fania, Femia sebuah nama yang sempet muncul untuk nama anak saya tapi akhirnya saya menjatuhkan nama kepada FANIA DAN FEMIA..
tahu ga sosok seorang ibu sejati pasti akan selalu mengatakan walaupun aku bukan ibu biologismu, namun kau akan akan kujaga bahkan dengan nyawaku sendiri
#EKA
Oh gitu ya Om iyan ? Sempet mempertimbangkan nama Vanya juga….
bikin postingan kok mengharu biru…
laki-laki juga bisa nangis hlooo…
#EKA
Maaafkan….
itu namanya cari enaknya sendiri…yg enak diambil yg gg enak ditinggal, lha terus yg dititipin yo kasihan banget . trus kalo dah gitu masih kasih syarat harus panggil namanya vanya…terus lagi kalo dah besar masih minta diakuin sebagai ortu…lha kalo gini ortu macam apaan ??
kalo anaknya durhaka ama orang tua jangan disalahkan kalo ortunya kyk gini…biar tahu rassaaa !!! *gemes*
kalo emang gg siap bikin anak yo pake kondom kek, atapu kontrasepsi kek atau jgn pernah ikutan gaya pergaulan sex bebas !, kalo ngesex aja 100 % setuju tapi giliran punya anak..anaknya di telantarkan..malah ada yg dibuang….gwgw paling marah kalo lihat kasus ginian…miris banget …
apapun alasannya gwgw gg setuju…!! titik !! **dasar ortu yg gg punya hati**
#EKA
)
komemu paling panjang kayaknya ini (sementara, Zulhaq lom dateng soalnya
cerita seperti ini nyata kehidupan sehari – hari
[gwgw]
mendingan di buang ke kamar mandi ya om, gak merugikan siapapun. hanya ruginya, siapa tau yang di buang adalah calon presiden kekekekkkekekkk…..
[Mbak Eka]
gue datang dengan segala kesintingan. liat dunk yang paling panjang komnennya sapa
komen penuh hati dan perasaan lembut seorang zulhaq yang ganteng ^_^
oh ini, bukan kisah yang di alami langsung, tapi di ambil dari kisah nyata hari2. tadi sempat nanya. hanya memastikan aja siy…
#EKA
@gwgw : tuh dengerin kata Zulhaq… kalo yg lu buang calon presiden gimana
@Zulhaq : soal panjang komen bukan ukuran, tapi kualitas yg penting ;
aaah jd ada ide.. perlombaan komen berkualitas hahahaha
huakakakaka…sayang tuh kalo calon presiden
huakakakkakak, perlombaan komen berkualitas, hadiahnya si imut atozzzz kekekekeke
kan panjang dan berkualitas…lebih panjang lebih kerasa, lebih lama lebih mantap *apaan tuh* kekekekekkekekek
#EKA
es krim batangan…
enak
gwgw belom kelimaxx kasih koment nih……(mumpung zulhaq belum nongol..he..he..he…)
pokoknya gwgw gg setuju ada ortu yg gg punya hati….!!!
ingat yg dititipin tuh pasti akan punya keterikatan batin pada si anak, lha kalo keterikatan itu nantinya akan dirampas lagi…artinya ortu macam ginian menghancurkan perasaan dan kebahagiaan dua orang manusia, si ibu juga si anak ….apa gg keterlaluan ortu yg macan gini …!!
ok gwgw dah kelimaxx…udahan ya….
#EKA
puas ?
Zulhaq dibawa- bawa hehehe
huakakakakak…gara gara pulang malam, komen kesalip
tapi gak apa, toh dajh kelimaxxx juga. walaupun di ronde terakhir ekekekekekk
om gwgw, gak boleh emosi. semua masalah itu harus diselesaikan dengan kepala dingin, tak ada kekerasan yang membawa kelembutan. yang ada, mahluk lembut membawa kekerasan *nah lo, yang keras apaan* kekekekekekekekkkk……
saiah juga gak setuju, gak setuju kalo keluarganya aura kasih membuang anak kami huakakakakk
salam sinting!!!!
#EKA
haiyaaah
lu beda2 terus, dewi sandra lah, luna maya, skr aura kasih?
ati2 raja singa ahhahaha
kan recananya poligami…langsung 3, luna, aura ma sandra kekekekeke
#EKA
gak sekalian 4 ha?
si vanya bukannya mo lo embat juga hahhaa
eheemmmm…itu buat tambahan
kalo bunda mayanya masih hidup, sekalian 5 kekekekekkkk
hiks…sedih…pengen nangis…
#EKA
ini tisunya…
mudah2an gue ga pernah nemuin hal ini dalam kehidupan nyata
dilematis
#EKA
Jangan sampe…
Koq bersambung seeeeeeh… capek nulis nya ya…sini tak bantuin bikin tulisan di dari istana pakde. biar ngalir semua kata2nya…
#EKA
bener nih pakde?
mau bantuin ?
Gimana kalau bantuin beliin eskrim ajah
Nama ponakanku jg Vanya hehehe.. skrg jg jauh sama maminya, diasuh sama mami mertuaku krn maminya abis kecelakaan di lampung
#EKA
ooops i’m sorry to hear that
semoga maminya Vanya ponakanmu cepet sembuh yah
Vanya…oh vanya….
wes mbak, cepet buat lanjutannya
uda banyak yg ndak sabar tu…
hiks…hiks….
#EKA
oke bos
Rasanya keputusannya itu tidak tepat. Tapi apalah yang bisa kuduga dari pikiran inang? Benarkah?
#EKA
kita liat aja nanti amang
sedih….
next click on Vanya 2
belajar mencintai adalah belajar melupakan (dalam kasus vanya itu dia harus belajar ngerelain anaknya di urus sepupunya…kasian!!)
#EKA
hakekatnya hidup itu adalah pembelajaran yang tak pernah berhenti…
akhirnya baca juga *lompat lompat, sambil nangis* he2…*loh nangins kok he2* hikzzzzzzz
gue baca, ternyata dah lengkap 3 seri. tapi yang seri 2 dan 3 sengaja gak dibaca dl biar afdol. komen dulu disini, baru lanjut baca. kan ceritanya, mengikuti dari awal he he he *dasar sinting*
Bertanya dulu sebelumnya, entah dapat jawaban langsung atau akan ada jawaban dari tulisan berikutnya. apakah ini kisah nyata atau sejenis cerpen mbak???
komen komen komen *keburu di pentungin mbak eka pake pempersnya vanya* he2…
Tanginsan vanya atas kepergian sang bunda maya, merupakan wujud dari ikatan bathin antara malaikan kecil dengan sang bunda, dan itu adalah suatu kuasa tuhan yang tidak bisa dipisahkan dair kehidupan yang sementara ini *halahh, sok tua*. betapa kejamnya keputusan dan keinginan keluarga, mengorbankan seorang malaikat cantik demi ingin melihat maya dengan masa depan yang mereka harpkan. tp, apakah pernah terpikirkan bagaiman perasaan maya??? apakah dia akan sanggup melanjutkan cita2, dibalik bathin yang tersiksa, dibalik hati yang merindukan kehangatan bersama vanya….
oh, sungguh suatu keputusan yang keliru. pendidikan tetap bisa dilakukan dengan status menerima ivan menikahinya. yang penting, vanya memiliki orang tua utuh yang resmi, setelah itu pendidikan tetap dijalankan. entah, vanya di asuh atau gimana. kasih sayang seorang ibu adalah sesuatu yang tak bisa di gantikan dengan apapun. betapa sayangnya maya terhadapa malaikat kecilnya, sehingga keinginan keluarga untuk aborsi pun di tentang hingga malaikat itu keluar melihat indahnya dunia dengan tangisan khas-nya *oeeeekkkk oeeekk oeeekkkk*
seadainya vanya bisa mengeluarkan kata-kata, dia akan berbisik lirih “bunda…vanya tak akan bisa jauh dari bunda…vanya ingin melihat kehangatan bunda bersama papa…vanya akan mandiri, membiarkan bunda menggapai cita-cita yang di inginkan keluarga…ketika bunda sudah menggapai cita-cita, vanyapun sudah bisa berbagi senyum dan kehangatan menjadi malaikat yang sudah tumbuh besar”….
Kata vanya lagi…
“Bunda…om zulhaq-pun begitu terharunya melihat kondisi ini. bagaimana dengan bunda??? bagaimana dengan papa yang walaupun vanya gak kenal??? bagiamana dengan mbak eka dan suaminya???
Mbak Eka-pun berkata
“iya vanya…om zulhaq itu, walaupun sinting, tapi dia punya perasaan yang sensitif juga untuk hal ini. makanya dia ganteng….
Zulhaq pun berbisik lirih…
“vanya….kamu harus semangat, tuhan punya rencana lain yang lebih baik buat kamu sang malikat kecil. sampaikan terimakasih pada tante eka….
Salam sinting!!!
#EKA
Vanya….. kalo makan atau minum liat2 ya..
jgn kayak om zulhaq.. kebanyakan mimun susu kuda liar
jadi kena narsisme komplex
huakakakkakak…
vanya….kalo makan dan minum, harus ingan om zulhaq
bila perlu ajak ia makan dan minum bareng lkekekeekekek
#EKA
beres om !
nanti om yg bayarin kan
huahahaha…tante kok van, nanti di traktir bubur ayam ha ha ha