Sekelumit cerita sebelumnya :
Karena terlambat bangun EKA terpaksa bergegas menuju bandara guna mengejar pesawat ke Surabaya. Untunglah pesawat yang hendak ditumpangi EKA ditunda keberangkatannya selama 45 menit. Mengisi kekosongan EKA mampir di kedai roti untuk sarapan dan disitulah petaka dimulai. Ketika kasir tak bisa memberikan kembalian, seorang bapak yang baik hati menawarkan untuk membayari. Awalnya EKA menolak namun karena keadaan, tawaran bapak itu akhirnya diterima. Si bapak yang ternyata anggota DPR mengajak EKA naik ke pelaminan padahal baru juga bicara 15 menit lamanya. Dengan berkelit EKA bisa lolos dari cengkeraman bapak tadi, namun tampaknya penderitaan EKA belum usai…… Apakah EKA telah benar-benar lolos dari jeratan bapak tadi?
————————
Saya bengong terlolong – lolong !!! Cuma dari ngobrol 15 menit saja ia bisa memastikan bahwa saya cocok jadi istrinya ?! Dunia memang sudah gila ! Dan tolong dicatat ia cerita panjang lebar begitu sambil tetap memegang tangan saya yang tadi bertukar kartu nama…!! Ooooh !! Maafkan aku tanganku, maafkan diriku ya… punggungmu dielus-elus pria setengah baya. Sebel gak sich, terlebih lagi ketika saya terkaget – kaget dengan manuver si Bapak anggota DPR itu saya sempat melihat senyum dari ajudannya. Senyum licik seolah berkata sudaaah terima saja, kapan lagi ada anggota DPR mau sama kamu. Sempruuul !!!
Otak saya berpikir cepat, bisa – bisa saya terjerat lebih lama dan tangan saya makin menderita dipegang – pegang bapak itu. Nyari abu untuk gosok tangan ini 7 kali kan susah, ini bandara bung ! Jadi ketika ada suara panggilan untuk boarding langsung saya bilang bahwa itu pesawat saya.. padahal itu pesawat ke Jayapura sedangkan saya mau ke Surabaya… tapi peduli amat… tangan saya jauh lebih berharga ! Akhirnya si Bapak melepaskan saya dan saya ngaciiir ngumpet ke toilet !! Tapi ternyata penderitaan saya belum berakhir, penderitaan itu masih belum usai mengintil…
Di dalam toilet, saya mengatur nafas yang tak beraturan karena berusaha lari secepat – cepatnya. Sengaja toilet yang dipilih, dengan pertimbangan gak mungkin kan si Bapak yang berjenis kelamin pria itu bakalan nekat mengikutinya masuk ke toilet wanita. Kalo memang nekat, ya siap-siap aja disemprot sama semua wanita Jakarta yang ada di dalam toilet ini. Diantara nafas yang menderu dan barang – barang bawaan juga roti rasa kopi yang akhirnya hanya tergigit secuil, ponsel saya tiba – tiba berdering. Saya amati baris rapi angka – angka yang muncul, heeem dari nomor tak dikenal karena tak ada dalam phone book ponsel saya. Mungkin penyelenggara event di Surabaya begitu batin saya berkata.
“Hallo, disini Eka.” Jawab saya pendek. Gaya saya memang begitu. Judes – judes galak begitu.
“Hallo dik Eka…. sudah boarding?” Suara diseberang sana bertanya.
“Belum, ini siapa ya?” tanya saya datar.
“Ini bapak XX.” Ia menyebutkan namanya, Oh My ternyata si bapak anggota DPR tadi ! Saya sedikit bingung bagaimana juga ia bisa tahu nomor telepon ini. Dan saya pun menepok jidat dengan kerasnya, tentu saja ia bisa menelepon kan tadi sudah tukaran kartu nama. Nomor ponsel saya bahkan telepon dan alamat kantor juga tertulis lengkap disana ! Maaaak, semoga ini bukan pertanda buruk.
“Ada apa ya pak?” tanya saya (masih) agak sopan walopun sudah kesal.
“Oh belum boarding, kalo saya sudah di dalam pesawat, sebentar lagi take off. Rasanya koq gak tenang kalau belum telepon dik Eka.” Mulut saya mangap mendengar alasannya. Emangnya saya pacaran sama dia apa?! Ketemu juga baru beberapa menit moso naek pesawat saja harus lapor segala. Posesif bener. Tapi itu belum seberapa… saya hampir muntah mendengar kata-kata selanjutnya. Dan saya yakin anda juga.
“Dik Eka, jangan telat makan ya. Jangan sampai masuk angin, kalau telat makan itu sumber penyakit, bisa kena maag, bisa lemes, jaga kesehatan dik EKA supaya nanti setelah saya kembali kita bisa ketemu lagi ya.”
Haa..???! Hampir pingsan saya mendengar rayuan jadul itu. Sesudah itu hidup saya tidak tenang, setiap hari bapak tadi menelepon, tentu saja tidak saya angkat. Alhasil dalam satu hari daftar miskolnya sampe 20 kali ! SMS bertubi – tubi juga saya dapatkan, waah pokoknya geraaah ! Setelah tiga hari hidup di dalam teror saya memutar otak gimana caranya agar si Bapak berhenti mengejar – ngejar cewek seperti saya yang jelas – jelas gak mau sama bapak-tua-bangka-yang-terlihat-arif-awalnya-tapi-ternyata-buaya-juga ! Ganti nomor jelas gak mungkin, ini nomor kantor. Akhirnya setelah otak ini digunakan sesuai dengan kapasitasnya untuk berpikir (duuch otakku akhirnya dipake buat mikir yang bener bukan cuma mikir yang aneh-aneh aja
) saya menemukan ide brilian. Ketika ponsel saya berdering lagi…
“Hallo, bapak XX ya..?” kata saya dengan suara ramah terdengar bahagia (kalau anda dengar suara saya, pasti tergoda juga. Suara saya centil-centil gimana gitu). Termakan rayuan si Bapak menjawab mesra,
“Iya dik Eka sayang, apa kabar? Kapan kita bisa berjumpa?” tanyanya riang walaupun saya eneg setengah hidup mendengar ia memanggil saya sayang.
“Heem… gimana kalau besok pak?” saya menawarkan waktu bertemu. (tetap dengan suara dicentil-centilkan)
Terdengar gembira suara diseberang sana bertanya “Waah… besok..?! Boleh.. jam berapa, dan dimana sayang?
Hooek saya bener – bener sudah mau muntah ! Tapi saya kuat-kuatkan. Dengan menarik nafas panjang saya bilang,”Saya main ke kantor bapak saja, kebetulan saya mau ketemu Om YY.”
“Lho.. kamu kenal YY..? tanya si Bapak dengan suara keheranan yang tak bisa ditutup-tutupi.
“Ya kenal pak, dari pemilu 99 juga sudah kenal Om YY karena bla..bla..bla.. (Saya menjelaskan hub saya dengan om YY, lengkap dengan detail keluarga, karir politiknya dan juga menyisipkan beberapa nama lain di dunia politik yang saya kenal semasa saya bergabung di LSM dulu. Pokoknya komplit, runut dan penuh dengan detil meyakinkan supaya si Bapak ini tidak berprasangka bahwa saya hanya asal bicara), nah kebetulan besok saya mau ada diskusi dengan Om YY di MPR-DPR. Jadi gimana, besok mau bertemu pak?” Saya nyerocos menjelaskan. Tapi hanya sunyi yang menjadi jawaban pertanyaan saya…“Hallo.. hallo…” kata saya lagi
“Wah dik Eka saya baru diberitahu besok saya harus ke Bandung, kapan – kapan saja ya.” Jawab si Bapak pendek dan… Klik. Telepon diputus.
Yeaaa.. Yeeaaaa !! Senyum kemenangan ala smiley tersungging lebar di wajah saya. Baru tahu ya pak, anggota DPR yang saya kenal itu bukan cuma bapak
dan si Om YY adalah ketua komisi **, walaupun beda komisi tapi tetap aja posisinya lebih tinggi, bapak kan anggota dan Oom YY adalah ketua, senior pulak ! Hihihihi. Nyahoook dech ! Duuuch oom YY maaf ya saya nyatut – nyatut nama Oom. Dan akhirnya dunia saya kembali ceria
namun dalam keceriaan saya, terselip beberapa catatan :
- Semoga bapak tersebut hanyalah oknum, bukan gambaran sebagian besar anggota DPR yang berkantor di gedung hijau itu.
- Sampai sekarang saya masih terheran – heran, bagaimana mungkin saya yang belum mandi, belum gosok gigi, tanpa make up, tanpa minyak wangi dan berpakaian tertutup bisa menarik di mata Bapak itu. Nah kalau dandanan saya pagi itu seperti ini,

make up tipis - tipis dan baju super ketat hahaha
maka tak heran kalau saya diperlakukan seperti itu. Karena itu berarti saya yang cari perhatian. Tapi tampang saya waktu itu seperti ini !

giliiiing... nekat bener gue pasang poto bangun tidur begini hanya untuk membuktikan bahwa gue sama sekali gak aneh-aneh
Kucel, jelek, mana mata cuma tinggal ½ watt. Plus sepertinya masih ada iler-iler kering juga disudut bibir. Ingat, waktu itu kan saya kan tidur di taksi. Maaak begitu juga, masih di sosor aja. Gak ada cakep – cakepnya !!
- Si Bapak menelepon saya saat di dalam pesawat yang mau lepas landas, padahal jelas – jelas itu mengganggu keselamatan. Lho koq bisa telepon…? Lho koq gak menghormati peraturan itu? Well.. well.. saya rasa anda tahu jawabnya. Sebel kalo ketemu yang begini.
- Rayuan jadul si Bapak benar – benar bikin muak. Hari gini ngingetin makan…? Jangan sampe masuk angin… ck..ck..ck… Apa gak ada rayuan yang lebih yahud pak ?! Butuh lebih dari itu untuk membuat bapak masuk dalam list pertimbangan saya. Itu aja masih list lho ! Belum pemenang hati saya.
- Dalam satu hari bisa nelponin saya hingga 20 kali plus SMS. Terus… kapan kerjanya kalo gitu pak? Atau itu sebenarnya adalah pekerjaan sehari – hari?
- Kalau saya tahu bahwa ia mau mbayari dan megang-megang tangan ini, harusnya saya ketemu bapak itu di toko berlian ! Bukan toko roti. Sueeek tangan gue cuma seharga sepotong roti dan secangkir kopi. Rugiiii… Rugiiiii Bandaaaaaaaaaarrrr !!!
Eka Situmorang – Sir




Ka’ kalo loe pagi itu udah mandi dan berdandan dengan kaos ketat seperti di foto, gw yakin pak xx dan pak yy akan berkoalisi spy bisa dptin parliementary threshold (alias persetujuan dr elo)…halah…please deh
#EKA
hahahahha dpt kosakata baru nich gue.. parliementary treshold hahaha
teteup deh ada foto… hihi…
untung aja kamu cerdik begitu, ka.
orang kayak si bapak mah emang kudu dilawan dengan kecerdikan ya, ka?
*mencatat jurus eka serasa ada anggota dewan yang silap mau sama aku*
#EKA

hahaha
byk kali yg silap ma bu Dok
secara bu dok kan pinter, cakep rain nulis pula
soal foto.. itu bukan ajang narsiiis dok !
itu untuk mendukung cerita
Waduh, mantap juga rayuan bapa-bapak DPR itu, ternyata bukan cuma anak ABG saja yg tiba-tiba perhatian banget, Atau memeng sudah rumusnya laki-laki ketika pertama kali merayu cewek…
Tapi saya suka, jalan keluar mbak Eka itu…
#EKA
soal jalan keluar boleh lah kita sama2 tertawa senang
tapi soal rayuan si bpk DPR ituuuh???
weeeks
saya masih mangkel setengah idup nich !
Halah.. si Bapak bikin malu aja ..
Saya sebagai rakyat Indonesia merasa malu punya wakil spt itu, terlebih rayuannya yg tak seterhormat julukannya.
Masa merayu gadis jaman sekarang seperti itu.
Betama malangnya rakyat Indonesia.
#EKA
Pak Acha mau kasih les privat ke bapak itu ?
huakakakakak…. jadi pengen ketemu anggota dewan di depan penthaouse yang lagi dijual… apakah dia akan membelikannya untuk saya *matre*
#EKA
coba ajaa…
tapi gue jamin dia minta tumbal lebih dr elus2 tangan
Dejavu …
Aku pernah baca ini, komen di sini …
Kok gak ada, kok gak ada ..??
*ngglosor-nglosorin kaki di lantai, ngambek*
Eh, apa waktu itu pas tiba-tiba mati lampu ya di rumah..
#EKA
sebenernya aku bingung… si Muzda kemana ya
gak pernah maen ke blog ini lagi
heeem mungkin bener wktu itu pas mati lampu jadi gak ke kirim.
ya udh komen lagi aja hahaha
Untung 9 April kemarin saya tidak mencontreng karena tidak terdaftar…
Saya hanya khawatir bahwa anggota DPR yang bersih ibarat mencari butiran gula dalam seonggok pasir.
#EKA
tapi harus tetap optimist mas
walopun sulit tapi pasti masih ada
wah.. seru.. seru…
hmm.. pake jurus kenal anggota DPR ya. tapi kalo saya cuma kenal ma mandra. gimana doms?
hehe..
#EKA
hahahaha, coba ajah sapa tau sukses jugah
Hee.. Pas liat posting ini, aku langsung meluncuur.. baca ampe abis dan mendetail. Orang gilaa.. Wah, ternyata gak rambutnya mbak eka aja yg panjang, tapi akalnya juga, ahahhaha..
#EKA
harus gitu.. daripada diteror terus hehehe
Dik Eka…masih inget saya,…yang waktu itu bayar roti dik Eka di bandara…..,gimana kabarnya, semoga baik2 saja,.. dah makan belum? jangan telat makan ya nanti masuk angin ato maag lho…I MISS U…hihii…(PISS)
wakakakak…baru baca. lucu…lucu…..
lha untung punya kenalan juga di dewan….kalo nggak siap-siap pindah rumah, ganti telp, atau masuk program perlindungan saksi hehehe…
cerita bersambung ini membuat sayah tertawa terkikik2 hehehehe
semoga nga ketemu lagi orang yang kaya begitu, annoying pisaan…
#EKA
hahahaha ini belum selesai lho ceritanya
masih nyambung tau
masa cewek cantik mau ama ortu tu………………..!!!
Ping-balik: Buah Mangga Bunga Melati - Cerita EKA