Di tulisan sebelumnya saya sudah membeberkan perlakuan semena-mena salah satu anggota DPR kepada saya. Sungguh hingga detik ini saya tidak tahu kenapa takdir begitu senang membuat saya berurusan dengan para pemimpin – pemimpin rakyat yang bersemayam di bilangan Senayan itu. Mulai dari berurusan dengan mereka karena kantor hingga urusan – urusan tak terduga dimana murni tangan takdir sedang bermain dengan saya. Nah sekarang saya ingin berbagi satu lagi pengalaman pribadi berurusan dengan salah satu pejabat pemerintah tersebut yang timbul diluar konteks pekerjaan.
——————————-
Dering ponsel yang keras mengacaukan nyenyaknya tidur saya di suatu hari di Bulan Oktober. Huuh.. pagi buta begini siapa juga siich yang mau telepon – telepon ?! Ampuuuun dech saya kan bukan kalong yang jam begini masih segar bugar. Jadi tentu saja dering posel itu saya acuhkan, sedang enak – enaknya dibuai mimpi mana mau diganggu. Ingat ! apapun yang gantung itu gak enak ! J Tapi dasar ponsel gak tahu diuntung ! ooops maksudnya si penelepon yang tak tahu diuntung, sudah dicuekin tetap tidak menyerah begitu saja. Teruuus saja berdering memekakkan telinga. Dengan mata setengah terpejam saya angkat itu ponsel dan suara diseberang sana langsung membuat mata saya melek lebar – lebar sekaligus meloncat dari tempat tidur. Maaaaak !! Hari ini saya mesti terbang ke Surabaya dengan penerbangan pertama untuk suatu event dan si penelepon yang ternyata dari perusahaan taksi langganan mengabarkan bahwa taksi yang akan membawa saya ke bandara telah menunggu 15 menit di depan rumah.
Wadooooh, dingin udara awal musim penghujan sukses meninabobokan saya. Cepat saya lari menuju wastafel, cuci muka, berganti pakaian dan langsung menyambar satu tas travel dan satu tas tangan. Beruntung semua perlengkapan sudah saya siapkan tadi malam, jadi tanpa mengecek pun saya tahu semua keperluan sudah lengkap dan aman. Tergesa – gesa saya masuk kedalam taksi dan kepada pak supir saya cukup berkata pendek, “ngebut ya pak dan bangunkan saya kalau sudah dekat bandara” (hehehe gak mau rugi jatah bobonya
).
Sampai di bandara, saya berlari – lari menuju ke counter chek in. Lega rasanya setelah tahu bahwa penerbangan ditunda 45 menit. (Bener dech baru kali ini saya tersenyum lebar ketika penerbangan terlambat
). Melenggang kangkung saya berjalan ke ruang tunggu dan cacing – cacing diperut saya yang tidak pernah kompromi itu berteriak – teriak kelaparan. Celingak – celinguk sebentar akhirnya mata saya tertuju ke kedai roti bundar – bukan topi lho- berwarna cokelat dengan rasa dan harum kopi yang khas dan didalamnya ada cheese yang eunak ! Saya memutuskan untuk membeli sarapan roti disana. Keputusan yang saya sesali, karena disitulah petaka itu mulai terjadi !!
Saya adalah pembeli pertama yang datang dan ternyata untuk sebuah roti dan secangkir kopi yang saya beli sang kasir tidak memiliki kembalian dari uang pembayaran yang saya sodorkan. Dan sang kasir tidak membantu sama sekali, usaha gitu kek untuk cari uang kembalian atau gimana. Dia cuek saja. Padahal saya benar-benar tidak punya uang kecil, sudah habis untuk membayar taksi. Dan tidak mungkin saya membatalkan pembelian roti itu, lha wong sudah saya gigit sedikit hehhehe (kebiasan jelek yang gak bisa hilang, makanan belum dibayar tapi udh dimakan hahahaha). Ditengah kejengkelan karena sikap dingin kasir dan kebingungan karena saya harus bayar pakai apa. Tiba – tiba dari belakang terdengar suara berwibawa.
“Makanan mbak ini sekalian saja sama saya,” suara bariton itu memaksa saya menoleh ke belakang. Seorang bapak setengah baya namun terlihat masih gagah tersenyum bijak melihat kesulitan saya. Sepertinya ia sudah mengamati saya dari tadi.
“Oh gak usah pak, ini saya lagi nunggu kembalian aja koq,” saya berusaha menolak tawaran yang memang saya butuhkan itu dengan halus. Walaupun butuh, ya tetap gak enak aja tiba – tiba dibayari orang tak dikenal. Lagian ingat gak dulu waktu masih kecil ibu selalu menasehati kita agar hati – hati sama orang asing? Yaaa walopun bapak ini terlihat arif tetap saja kita harus waspada.
Namun akhirnya saya mengalah untuk dibayari karena si kasir sialan itu memang gak mau membantu mencarikan uang kembalian. Sebagai rasa terima kasih ketika si bapak mengajak ngobrol maka saya meladeninya dengan sopan. Yaah itung – itung untuk membunuh waktu menunggu pesawat lepas landas. Si bapak memperkenalkan dirinya sebagai anggota DPR komisi ** (heran kenapa harus bilang anggota DPR sich kalau kenalan.. jadi ingat postingan saya kemaren, atau memang begini gaya kenalan mereka ya? ) Tapi dari obrol-obrol santai tersebut saya baru tahu kalau komisinya itu mengurusi bidang pekerjaan yang saya geluti. Jadi ketika si Bapak meminta bertukar kartu nama tanpa pikir panjang saya langsung memberikannya. Siapa tahu nanti bisa kerja sama, begitu pikiran cerdik yang melintas di otak saya. Di saat bertukar kartu nama tersebut, si Bapak bercerita bahwa istrinya telah meninggal dan ia duda dengan anak 2 (sumpah bapak anggota DPR ini bukan Adjie Massaid) dan sedang mencari istri. Kriteria menjadi istri idamannya adalah sang wanita itu harus pintar, cantik, sopan dan bisa mengerti posisinya yang mengharuskan ia tugas – tugas keluar. Ditambahkannya lagi bahwa saya memenuhi kriterianya.
??????!!!!!!! ???????!!!!!!!!
Saya bengong terlolong – lolong !!! Cuma dari ngobrol 15 menit saja ia bisa memastikan bahwa saya cocok jadi istrinya ?! Dunia memang sudah gila ! Dan tolong dicatat ia cerita panjang lebar begitu sambil tetap memegang tangan saya yang tadi bertukar kartu nama…!! Ooooh !! Maafkan aku tanganku, maafkan diriku ya… punggungmu dielus-elus pria setengah baya. Sebel gak sich, terlebih lagi ketika saya terkaget – kaget dengan manuver si Bapak anggota DPR itu saya sempat melihat senyum dari ajudannya. Senyum licik seolah berkata sudaaah terima saja, kapan lagi ada anggota DPR mau sama kamu. Sempruuul !!!
Otak saya berpikir cepat, bisa – bisa saya terjerat lebih lama dan tangan saya makin menderita dipegang – pegang bapak itu. Nyari abu untuk gosok tangan ini 7 kali kan susah, ini bandara bung ! Jadi ketika ada suara panggilan untuk boarding langsung saya bilang bahwa itu pesawat saya.. padahal itu pesawat ke Jayapura sedangkan saya mau ke Surabaya… tapi peduli amat… tangan saya jauh lebih berharga ! Akhirnya si Bapak melepaskan saya dan saya ngaciiir ngumpet ke toilet !! Tapi ternyata penderitaan saya belum berakhir, penderitaan itu masih belum usai mengintil…
BERSAMBUNG




Hihihihi… serem euy! *saya ngebayangin senyuman licik sang ajudan* huaaa, pikiran saya langsung parno.. sangat!
#EKA
kalo gue..
pengen gue tabok aza hahaha
Wah…baru tahu kisahnya seperti itu..
Btw….emang Sis. Eka tampak mengoda yah?
Emang dia terpilih kembali gak jadi DPR? Atau dia lagi stress?
#EKA
Gak tau mas/bang….
gak tanya2 lagi:p