Sini, aku peluk..
by Eka Situmorang-Sir on Apr.21, 2009, under Cinta - Love, Daily
Aku tergolek lemah diatas tempat tidur. Keringat mengalir deras dari seluruh pori-pori dibawah lapisan kulit ari. Ku cek temperatur AC, angka 20 celcius tertera jelas pada papan digitalnya. Jadi bukan panas ruangan yang membuat kelenjar-kelenjar keringat seolah berkejaran menghasilkan air asin. Suara pintu berderit dari engsel besi yang telah setahun tak tersentuh oli pelumas. Kubalikkan badan untuk melihat siapa yang datang. Tapi gerakkanku tertahan oleh rasa sakit yang luar biasa hebat. Seolah ribuan jarum menusuk – nusuk usus halus dalam perut. Ouch…. aku meringis menahan sakit. Kucoba sekali lagi memutar raga, kali ini pelan-pelan. Dan aku pun mengerang kesakitan. Dari sudut mata, kornea ini melihat suamiku berdiri dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat.
Sudah beberapa hari ini aku terbaring sakit. Namun tidak sepatah kata keluhan pun keluar dari bibir ini. Perihnya perut aku tahan dalam diam, lemasnya tubuh aku rasakan tanpa suara. Tidak, aku tidak mau mengeluh. Aku tidak mau menambah susah perasaan suamiku. Ia sudah sangat telaten merawatku. Melihatku terbujur lemah begini saja telah meremukkan hatinya. Tadi tak sengaja aku mendengar ia memanjatkan doa bagi kesembuhanku. Suaranya begitu halus, kata-katanya begitu tulus. Tak ku dengar ketegaran khas seorang pria yang senantiasa hadir melalui suaranya. Mungkin ia mengira aku tidur terkena pengaruh obat sehingga ia berdoa dengan sangat khusuk. Sedemikian khusuk hingga bagian rapuh hatinya pun tersingkap. Suami mana yang tak sedih melihat istri yang dikasihinya terbaring tak berdaya. Kami memang dua pribadi yang berbeda. Namun istri atau garwo dalam bahasa jawa yamg memiliki arti sigaranne nyowo -separuh nyawa- menjadikan kesakitan yang menimpaku dirasakan juga oleh suamiku. Karena kami adala satu, dipersatukan Tuhan dalam sakral pernikahan. Bukankah jika tangan terjepit maka mulut yang menjerit? Karena tangan dan mulut adalah satu tubuh, demikian juga kami telah menjadi satu jiwa. Jadi aku tak mau mengeluh, kusimpan rapat semua rasa yang menggerogoti raga agar hati suamiku tak bertambah remuk.
Namun setelah 3 hari menggigit bibir bawah tiap kali ribuan jarum itu menusuk, akhirnya pertahananku jebol. Untuk pertama kalinya aku mengeluhkan sakitku. Lirih ku berkata, “bang, perutku sakit sekali.” Dan meneteslah air mata yang selama ini tertahan dibalik sikap kuatku. Kulihat mata suamiku berkaca-kaca, walau ia berusaha keras menyembunyikannya. Pelan ia berbisik, “sini, aku peluk.”
Diletakkannya baki makanan di meja dan ia pun naik ke atas tempat tidur. Hati-hati lengan kekarnya ia taruh di bawah kepalaku, sangat hati-hati seolah takut menyakitiku. Kemudian ia merangkul dan mengeloniku. Kutemukan damai dalampeluknya, kunikmati setiap rasa aman yang tercipta. Irama detak jantungnya menenangkanku, hangat uap nafasnya menjagaiku. Aku menangis dalam pelukan lembut tubuhnya. Namun air mata ini bukan timbul karena sakit tapi lebih karena rasa bersalah yang menyerang nurani. Terbayang saat ia mengingatkan untuk aku tidak makan hanya karena rasa tapi dengan mempertimbangkan kondisi pencernaanku yang memang dari dulu sangat sensitif. Terbayang pula saat aku tak mengindahkan pesannya itu. Melahap habis makanan pedas, asam dan berminyak yang terasa sangat lezat menggoyang lidah. Dan inilah ganjaran yang kudapat; infeksi saluran pencernaan. Itulah buah yang kupetik dari benih kengeyelan yang ku tanam. Tangisku kian menjadi diterpa rasa bersalah yang kian meninggi.
“Sssh jangan nangis lagi, kan udah dipeluk,” ucapnya lembut seraya mengusap anak poni di dahi. Ach suamiku, tidak ada kalimat menyalahkan meluncur dari bibir padahal peringatanmu seringkali ku langgar. Dan ketika ku terkapar guna membayar akibat makanan yang dengan sembrono ku telan, engkau tetap setia mengayomiku.
“Mana yang sakit?” tanyanya dengan nada penuh kekuatiran tatkala bulir air terus mengalir dari jendela wajah. Kutatap kedua bola matanya, dan lembut ku berkata, “sayangku, mari peluk aku lebih erat lagi. Karena hangat cinta dalam pelukmu merasuk hingga dasar relung jiwa.”
Selesai ku berkata begitu, ia memelukku erat. Sangat erat.
Eka Situmorang-Sir,
Untuk suamiku terkasih Adrian Sir
Popularity: 2%
Related posts:
82 Comments for this entry
2 Trackbacks / Pingbacks for this entry
-
20 + 1 cara EKA meperingati hari Kartini « EKA’s little story
April 24th, 2009 on 5:14 PM[...] WHO.. ?? ← Sini, aku peluk.. [...]
-
20 + 1 cara EKA memperingati hari Kartini - Cerita EKA
October 21st, 2009 on 6:24 PM[...] Ah ya ! ini kan tanggal 23 April, maaf telat posting (lagi – lagi dech !) habis kemarin kan lagi seneng dipeluk – peluk hehhe. Soo… biar genap ku kasih bonus dech, skalian dua [...]





April 28th, 2009 on 1:23 PM
Sudah sembuh pak Nug.
Bukankah sesuatu yang besar itu dibangun dari kumpulan hal-hal kecil
semoga bisa selalu menghargai hal kecil dalam kesederhanaan, menjadikannya bermakna..
October 6th, 2009 on 9:44 AM
nice post, sista !!!
October 31st, 2009 on 11:09 PM
Kebayang deh hangatnya dekapan mesra dalam kedamaian cinta itu
February 7th, 2010 on 8:58 PM
hikz………….
gw nangiz…………
moga2 awet…langgeng jaya…
umur…juga panjang jaya ya….
April 22nd, 2009 on 11:47 AM
April 22nd, 2009 on 11:48 AM
Iya nich, jadi kapok makan yang aneh2.
Pengen dikelonin ? hayooo harus udh halal lho :p
kalo belum, teddy bear boleh dech
April 22nd, 2009 on 11:50 AM
Iya mbak Fanda trims, perut itu duuuch segala ada disitu hehehehe. mesti ati2 dech jaganya. kalo enggak… wah alamat bubur + kecap doank kayak 3 hari kemaren ampyuuuun gak lagi2 hehehe
April 22nd, 2009 on 11:51 AM
Pengalaman pribadi ya ?
hehehe.
Weeits.. bawel ? masa sich (tetep ngakunya cewek kalem hihihi)
April 22nd, 2009 on 11:51 AM
Thank you buat doanya sista
April 22nd, 2009 on 11:55 AM
sakit hatiii
hihihi duuch mas, sampeya itu piye, wong udh diceritain juga kalo kena inpeksi saluran pencernaan.
Anyway thank u buat doanya
April 22nd, 2009 on 11:56 AM
hehehehe engkau sangat berempati Muzda
mas iya pelukan mama doank ? ada yg lain juga kali Muz hehehe
Nich, saya sudah kembali. siap2 blog.mu tak sambangi hihihi
April 22nd, 2009 on 11:57 AM
thank u nona cantik !
tapi cari suaminya harus yang benar jangan asal hehehe
April 22nd, 2009 on 4:36 PM
hahhaa, gak menyangka kalo lu menanti-nantikan telepon dari gue No hihihi
April 22nd, 2009 on 6:11 PM
ya ampuuun postingam lama di buletin friendster kalo i punya blog ya ??? waaah
gak nyangka it works hehehe
moga jadi pembaca setia ya Bon :p ngarep.com hehehe
April 23rd, 2009 on 12:30 PM
Iya dech… udh kena batunya nich gue
April 23rd, 2009 on 12:33 PM
Thank u pakde udh mampir
Memang dech kalo suami bisa kasih rasa aman cepet sembuh dech…
April 23rd, 2009 on 12:42 PM
thank u nancy…
peluk teddy bear dulu boleh sebelum dpt suami
April 23rd, 2009 on 12:44 PM
@Marina : cepat cari suami sana hhahahha biar halal dulu bah !
@Ami : jangan dibayangin aza dunk..
April 23rd, 2009 on 12:45 PM
ada apakah anak poni dengan Mas Dan ?
April 23rd, 2009 on 12:46 PM
Than u return visitnya
Aku jangan dipanggil mbak dunk, masih dibawah umur nich mbak hehehe
April 23rd, 2009 on 12:50 PM
Mas Sunar, Mas Surya and Mas Aden :
Thank you untuk doanya…
April 23rd, 2009 on 12:52 PM
@ Casual CUtie : Thank u
@ Aa : Semoga cinta itu terus tumbuh ya
@Rantaro : iri ?? meluk guling gih :p
April 23rd, 2009 on 12:56 PM
Amiiin ! Thank you
April 23rd, 2009 on 12:57 PM
Eh lu udh punya KOKO kan
sana sama koko lu
April 23rd, 2009 on 1:06 PM
@ Bujang : Thank u
@Pak Ubad : senantiasa bersyukur, moga bisa memelihara amanah menjaga api cinta
April 23rd, 2009 on 1:07 PM
arti kamu harus begitu juga nanti yaaa
April 23rd, 2009 on 1:09 PM
Benar sekali..
Dibalik sakit, malah dipeluk suami gitu ?
*garuk2 kepala mencoba mengaitkan maknanya dengan ceritaku…
HEEEEELP
April 23rd, 2009 on 1:10 PM
Iya lah suami ku sering bilang itu :
HOLONGI ROHAKU TU AU
kalo dia ngomong ama cewek lain, langsung naek darah dech
April 23rd, 2009 on 1:17 PM
Amin
Thank u untuk doanya mas
April 24th, 2009 on 9:58 AM
Thank u pak
akhirnya…. setelah sekian lama menunggu
April 24th, 2009 on 9:58 AM
hahhahaha, emang kerjaanmu lari2 terus ya mas..