“Aoouw…!!” jerit Sisil sambil mendelik setelah bantal sofa yang kulemparr mendarat telak dikepalanya. Aku tertawa terkikik-kikik melihat reaksinya. Lagian serius bener melototin teve sampai ada orang datang gak sadar.
“Usil amat sich lu…?!” katanya acuh tak acuh namun mata bulatnya terus tertuju ke kotak ajaib berwarna-warni.
“Ntar kalo gak usil, lu malah kangen lagi,” jawabku seraya mengambil posisi duduk disebelahnya.
“Nonton apa sich?” tanyaku manyun karena tak berhasil menarik perhatiannya. Sebel bener, gue dicuekiin nek !
“Ini nich, nyokapnya si Pinot. Lagi seru tau, ada counter balik dari keluarga Kelantan,” jawabnya pendek.
“Ha..?! Apaan sich, lu ngomong apa? Gue gak ngerti.”
“Ya ampyuuuun Eka, lu abis bertapa di gua ato baru balik dari bulan sich?” jerit Sisil antara sebal dan kasihan melihatku yang ketinggalan berita. Selepas iklan, akhirnya Sisilpun melemparkan pandang ke arahku. Akhirnya oh akhirnya ! Gue bisa merebut perhatiannya juga. Kalo enggak, iiih masa gue kalah pamor sama si tipi. Dankemudian meluncurlah biodata model cantik yang masih ABG itu dari bibir mungil Sisil. Lancar ia menerangkan kisah hidup Manohara Pinot seolah Sisil sudah kenal lama dengannya. Dia bilang cewek blasteran Indo – Perancis yang tampangnya terlihat jauh lebih tua dari usianya itu sedang naik daun (ulat kaliii manjat2 daun) baik di Indonesia maupun di Kelantan sana. Ada apa gerangan? Ternyata oh ternyata, di usianya yang belum genap berkepala dua, Pinot cantik diperkosa. Lalu dinikahi pemerkosanya (giliing, kalo gue mah mana mau married ama tk perkosa !) Disiksa, disilet – silet dadanya (yang ini belum tahu kebenarannya). Berobat ke Singapura, lalu kabur ke Indonesia. Setelah itu diajak umroh lalu diculik suaminya sendiri (heeeem, menculikkah namanya jika suami membawa istrinya pulang ke rumah?), dan ibunya bikin sensasi di media. Terus kerabat kerajaan Kelantan balas memberikan konferensi pers juga. Saling serang, saling tuduh. Rame, ribut, sehingga media seperti berlomba memberitakannya. Well, semua punya versi masing-masing dan tak ada yang mau mengalah. Yang pasti kasus ini mendapat sorotan media yang luar biasa besarnya.
Aku cuma manggut-manggut mendengarkan cerita Sisil dengan khidmat.
“Koq diem Eka? Eka…” kata Sisil sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan mata belok ini.
Emm..
“gue cuma bertanya-tanya aja Sil, kemana ya perginya media massa ketika terjadi penganiayaan terhadap TKW? Koq gaungnya gak ada?”
Dan kami berdua terdiam lama; tak tahu jawabnya.




hm…emang kalo berita TKW ada yang mo masang iklan ??? hehehe, lagi-lagi ceritanya masih duit2 juga….