Aku tergolek lemah diatas tempat tidur. Keringat mengalir deras dari seluruh pori-pori dibawah lapisan kulit ari. Ku cek temperatur AC, angka 20 celcius tertera jelas pada papan digitalnya. Jadi bukan panas ruangan yang membuat kelenjar-kelenjar keringat seolah berkejaran menghasilkan air asin.
Suara pintu berderit dari engsel besi yang telah setahun tak tersentuh oli pelumas. Kubalikkan badan untuk melihat siapa yang datang. Tapi gerakkanku tertahan oleh rasa sakit yang luar biasa hebat. Seolah ribuan jarum menusuk – nusuk usus halus dalam perut. Ouch…. aku meringis menahan sakit. Kucoba sekali lagi memutar raga, kali ini pelan-pelan. Dan aku pun mengerang kesakitan. Dari sudut mata, kornea ini melihat suamiku berdiri dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat.
Sudah beberapa hari ini aku terbaring sakit. Namun tidak sepatah kata keluhan pun keluar dari bibir ini. Perihnya perut aku tahan dalam diam, lemasnya tubuh aku rasakan tanpa suara. Tidak, aku tidak mau mengeluh. Aku tidak mau menambah susah perasaan suamiku. Ia sudah sangat telaten merawatku. Melihatku terbujur lemah begini saja telah meremukkan hatinya. Tadi tak sengaja aku mendengar ia memanjatkan doa bagi kesembuhanku. Suaranya begitu halus, kata-katanya begitu tulus. Tak ku dengar ketegaran khas seorang pria yang senantiasa hadir melalui suaranya. Mungkin ia mengira aku tidur terkena pengaruh obat sehingga ia berdoa dengan sangat khusuk. Sedemikian khusuk hingga bagian rapuh hatinya pun tersingkap. Suami mana yang tak sedih melihat istri yang dikasihinya terbaring tak berdaya. Kami memang dua pribadi yang berbeda. Namun istri atau garwo dalam bahasa jawa yamg memiliki arti sigaranne nyowo -separuh nyawa- menjadikan kesakitan yang menimpaku dirasakan juga oleh suamiku. Karena kami adala satu, dipersatukan Tuhan dalam sakral pernikahan. Bukankah jika tangan terjepit maka mulut yang menjerit? Karena tangan dan mulut adalah satu tubuh, demikian juga kami telah menjadi satu jiwa. Jadi aku tak mau mengeluh, kusimpan rapat semua rasa yang menggerogoti raga agar hati suamiku tak bertambah remuk.
Namun setelah 3 hari menggigit bibir bawah tiap kali ribuan jarum itu menusuk, akhirnya pertahananku jebol. Untuk pertama kalinya aku mengeluhkan sakitku.
Lirih ku berkata,“bang, perutku sakit sekali.”
Dan meneteslah air mata yang selama ini tertahan dibalik sikap kuatku. Kulihat mata suamiku berkaca-kaca, walau ia berusaha keras menyembunyikannya.
Pelan ia berbisik, “sini, aku peluk.”
Diletakkannya baki makanan di meja dan ia pun naik ke atas tempat tidur. Hati-hati lengan kekarnya ia taruh di bawah kepalaku, sangat hati-hati seolah takut menyakitiku. Kemudian ia merangkul dan mengeloniku. Kutemukan damai dalam peluknya, kunikmati setiap rasa aman yang tercipta. Irama detak jantungnya menenangkanku, hangat uap nafasnya menjagaiku. Aku menangis dalam pelukan lembut tubuhnya. Namun air mata ini bukan timbul karena sakit tapi lebih karena rasa bersalah yang menyerang nurani.
Terbayang saat ia mengingatkan untuk aku tidak makan hanya karena rasa tapi dengan mempertimbangkan kondisi pencernaanku yang memang dari dulu sangat sensitif. Terbayang pula saat aku tak mengindahkan pesannya itu. Melahap habis makanan pedas, asam dan berminyak yang terasa sangat lezat menggoyang lidah. Dan inilah ganjaran yang kudapat; infeksi saluran pencernaan. Itulah buah yang kupetik dari benih kengeyelan yang ku tanam.
Tangisku kian menjadi diterpa rasa bersalah yang kian meninggi.
“Sssh jangan nangis lagi, kan udah dipeluk,” ucapnya lembut seraya mengusap anak poni di dahi. Ach suamiku, tidak ada kalimat menyalahkan meluncur dari bibir padahal peringatanmu seringkali ku langgar. Dan ketika ku terkapar guna membayar akibat makanan yang dengan sembrono ku telan, engkau tetap setia mengayomiku.
“Mana yang sakit?” tanyanya dengan nada penuh kekuatiran tatkala bulir air terus mengalir dari jendela wajah. Kutatap kedua bola matanya, dan lembut ku berkata, “sayangku, mari peluk aku lebih erat lagi. Karena hangat cinta dalam pelukmu merasuk hingga dasar relung jiwa.” Selesai ku berkata begitu, ia memelukku erat. Sangat erat.
Eka Situmorang-Sir,
untuk suamiku terkasih Adrian Suryono-Sir





cepet sembuh yaa jeng!!
mBa eKa cpat seMbuhh y..
ingeT2 nasehat suaMi mBa..;D
jdi pinGin dikeLonin jg…hieKzz..
*lhaaa…koQ jdi mupEng???hihihi..;p *
Moga2 cepet sembuh deh. Aku jg sering banget sakit perut, dari maag, infeksi pencernaan, sampe gasthritis. Sampe ga tau lg bedanya satu sama lain. Yg penting memang istirahat total, dan setelah itu hrs jaga makanan. Tetap semangat ya!
Eda, emang klo lg sakit plg mantap dipeluk….apalagi klo diusap2 perutnya pasti lebih nyaman…
Cepet sembuh Da, biar bawel lagi…..huahahahahah
cepat sembuhhh ya….
dohh enaknya dipeyuk-peyuk…..
anyway, cepat sembuh…….mbak eka. hikzzz…lagi sakit aja bisa nulis kaya gini dirimu….
sakit apa sampeyan mbak…? semoga lekas sembuh ya…
Wah,, aku juga punya sakit infeksi saluran pencernaan Mb’ …
Hwaaa,,, aku bisa merasakan kesakitanmu..
Dan aku bisa memaklumi kengeyelanmu makan-makanan itu …
Dan aku tau gimana pelukan bisa menawar sakit,, walau dalam kasusku itu pelukan Mama
hehee
Cepet sembuh Mb’ …..
Cepat kembali pada kami
Cepat sembuh kk…..
Jadi pengen punya suami
xixiixx..
Aku sudah anti cabe … untuk bikin warna merah, aku selalu pakai paprika … sehingga semua orang bisa makan nasi gorengku.
Semoga cepet sembuh… ditunggu ngeblognya!
makanya jangan bandel :p….
kalo di kasih tau tuh nurut aja
Nice story…mudah2an mengilhami kaum lelaki di jaman sekarang, istrinya sakit dilempar ke dokter (maksudku di bawa ke dokter) Syukur syukur kalo dokternya nggak jatuh hati…kalau ke jadian repooooot ha ha ha ha…besok kalau dia asakit aku peluk aaaaaah…nggak usah di bawa kedokter (eh salah deng)
Salam saya Eka
beuh, pantesan kagak ada telpon iseng loe berdering ke haribaan kuping gue, ka…
sakit bu? cepet sembuh yaaa….
get well soon
hi Carrie.. cepet sembuh ya.. btw kalo baca blog km br tau kalo Adrian tnyt romantis amat ya hehehe =p
wah semoga diberi ketabahan atas cobaan ini dam semoga lekas sembuh salam kenal mbak
ah, romantisnya
aku juga mau di peluuukkkkkk… hehehe..
eh, sek..sek..
lagi sakit yaa?? jd lupa hihihi..
cepet sembuh ya sistaaa.. muacchh..
kan km post di frenster hehe…
semoga cepet sembuh
semoga cepat sembuh ya kak….
membaca tulisannya duhhh jadi pengen cepet2 ada yg ngelonin juga…. hehehhe….
lekas pulih yaaa. kebayang tuh nikmatnya dipeluk suami
Infeksi saluran pencernaan? Uh, aku tau betul rasanya seperti apa. Mengerikan memang!
…ucapnya lembut seraya mengusap anak poni di dahi.
Ih, suka sekali aku kalimat itu. Terutama pada ‘anak poni’. Terdengar sweet.
Cepat pulih ah.
*pergi nyari istri buat dipeluk*
Hahahaha! Becanda.
Woogh.. romantis sekali.. jadi pengen cepet sembuh kan sesudahnya?? hehehe..
Cepat sembut ya mbak..
Thanks lho udah main ke blogku.
God Bless..
@DM..
ck..ck..ck.. beneran lah itu ya.. nyari istri.. kekekeke
semoga lekas sembuh, contoh yang bagus nih dalam berkeluarga
Moga cepet sembuh mbak…..
salam kenal ja dech
Moga cepet sembuh mbak….salam kenal dari Aden
semoga cepet sembuh ya mba…
Dasyat
Suami yg penuh kasih
Betapa cinta terasa kuat diantara kalian
wah sakit apa mbak?? cepet sembuh ya
enak ya di peluk2, jadi iri nih hehe
Hhh..Suami yang snagat luar biasa Mbak…
Semoga bisa mengarungi samudera kehidupan ini hingga akhir nanti dengan bahagia..AMiinnn…
ehem….
abang…abang…
i lap u too….
Hem…. Moga cepet sembuh ya mbak….
Cepat sembuh ya.
Bersayukurlah punya suami yang begitu sayang.
Semoga semua lelaki membaca ini, karena suami mba Eka adalah contoh nyata yg harus diperbuat oleh seorang Suami jika Istrinya sakit.
Salam hangat buat Suaminya mba, dan semoga cepat sembuh yach… Saya juga ada penyakit itu kok kadang2 hehehe…
Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
(reply)
hehe…
ito.. ito…
lagi sakit, bisa juga merayu ..
hehe…
tak menyanyi saja ito,,
atau berbisik saja..
holongi rohaku tu au..?? (eh betul kah?? hahaha,,, susah kali menulisnya)
Oh indahnya bahtera hidup kalian. Selalu ingin saling menyayangi dan tak ingin menyakiti satu sama lain. Benar2 sebuah keindahan dalam rumah tangga. Salam hangat dan bahagia selalu buat mbak serta mas adrian. Mudah2an cepat diberi kesembuhan oleh Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Salam.
huhuhuhuhuhuhu.. terharu.. (berkaca-kaca mode on).. semoga cepat sembuh jeng.. nanti kukasih review makanan enak di semarang deh.. semangat!!
mau dong pelukan
ooooow ,soo sweeeat…
mbak pinter banget ya membangun suasana pembaca waktu nulis artikel,,
cepet sembuh yaaaa….
‘Berrpelukannn…’
wah aq malah pengen meluk ne,… wke..ke…ke..
cepat semauh ya mba, klo dah sembuh jaga kesehatan…
Mo minta dipeluk di sini
salam hangat selalu
Hyah..akir-akir ne kq malah musim sakit yah..
Semoga cepet sembuh aja yah Buk..,sini-sini aku peluk..wakxkxkxkx..,sebelum di lempar batako ama suami mending kabor ah..larrriiiii..wakxkxkxkxkx..
Cerita yang romantis…
Lidah saya lebih tak tahan pedas dibanding pencernaan saya.
BtW, Sudah baikan, mbak?
Pingback: 20 + 1 cara EKA meperingati hari Kartini « EKA’s little story
akh.. aku terlambat.. Semoga sekarang sudah sembuh yang Eka..
Hmm that was so sweet..
Very nice to see the romatic moment. Such small thing in life means BIG thing to refresh and maintain a strong spouse relationship. Keep it like that..
nice post, sista !!!
Pingback: 20 + 1 cara EKA memperingati hari Kartini - Cerita EKA
Kebayang deh hangatnya dekapan mesra dalam kedamaian cinta itu
hikz………….
gw nangiz…………
moga2 awet…langgeng jaya…
umur…juga panjang jaya ya….
@jensen
Memang harus baikan dunk hahahhaha