
dalam penjara
Sedikit malas aku melirik gadget yang diberikan perusahaan mulai tiga bulan lalu. Gadget yang 24 / 7 terkoneksi internet, yang diberikan dengan alasan kebonafidan. Namun aku tahu pasti udang dibalik batu atas pemberian cuma-cuma gadget canggih itu. Memaksa semua karyawan dengan level tertentu dapat bekerja setiap saat, setiap waktu bahkan ( kalau perlu ! ) tengah malam pun siap membalas surel klien potensial. Ku lihat layar lebarnya berkelap – kelip menampakkan untaian kalimat yang sudah kuhafal betul : reminder pengingat padatnya aktivitas yang harus dihadapi. Rasanya ingin kulempar saja gadget ini, biar diambil pemulung pinggir jalan pun rasanya aku tak perduli. Tapi bukan salah gagdet itu kan, jika aku tersekap tumpukan aktivitas yang kian lama kian kuat memasung hidupku?
Uring – uringan itu tersimpan rapi di alam bawah sadar terbayang gaji dipelupuk mata. Sebagai ganti jemariku piawai menandai jadwal yang telah dilalui hari ini :
10.00 Bermanis – manis di depan beberapa agent
12. 00 Temu makan siang dengan klien di bilangan Senayan,
15.00 Presentasi profil perusahaan di kedutaan Norwegia.
Dan sekarang tersisa satu aktivitas lagi
19.30 Jamuan makan malam dengan klien lama agar mereka terus menggunakan jasa perusahaan ini.
Aarrrgh ! aktivitas ini membelenggu, benar – benar keterlaluan menyita waktu !! Macam lintah penghisap darah – padatnya aktivitas ini menghisap jiwaku ! Habis. Hingga pelan detak nadi saja yang tersisa sementara jiwa seperti sudah terseok – seok kelelahan.
Masih ada satu jam lagi sebelum aku harus beranjak pergi. Ku perhatikan semburat jingga sore di cakrawala Jakarta. Indah nian langit sore ini. Walaupun gurita pekerjaan sudah melilit hidup namun seulas senyum terpatri manis melihat pemandangan langka ini. Persaingan sengit dan tuntutan jaman yang serba cepat – serba instan – kejam dan tak kenal waktu, merampas keindahan sore yang dulu biasa kunikmati bersama pacar atau sahabat.
Pacar? Kosakata yang telah lama tak hadir lagi dalam hidup. Senyum kecut menghiasi bibir menyadari bahwa jiwa ini sepi tanpa kehadiran pria yang disebut pacar. Tapi serentetan pembelaan berkelebat dalam angan : punya pacar itu merepotkan ! Harus lapor kemana saja pergi, harus menyediakan waktu untuk bertemu belum lagi cemburu buta tidak pada tempatnya. Dan wanita karier seperti aku, puih bisa mati kalau dikekang seperti itu !
Lebih baik berteman, karena komitmen teman tidak seketat komitmen pacar dalam mengikat waktu. Ku coba mengingat kapan terakhir kali aku kongkow dengan para sahabat; sekedar berbagi cerita ditemani panas kopi dalam cangkir. Tak lupa disisipi keping biscuit nan lezat yang selalu menjadi kambing hitam melebarnya lingkar pinggang
Keras aku mencoba menggali memori, namun aku tetap tak ingat kapan ! Kembali senyum kecut tersembul. Namun aku tak punya pembelaan apa-apa sekarang.
Setahun terakhir hidup ini hanya berputar dengan pekerjaan dan bertemu orang – orang terkait dengan tanggung jawab sebagai manager pemasaran. Jabatan yang kudapat setahun lalu dengan perjuangan. Jabatan yang memberi pendapatan dua digit tiap bulannya, mobil sedan keluaran terbaru, anggota klub olah raga ternama, apartemen dan berbagai macam fasilitas lain. Jabatan yang ku kira akan membuatku bahagia namun ternyata telah menggerogoti jati diri. Merampok semua waktu yang ada hingga nafas ini tersengal – sengal mencari udara sejuk bernama waktu untuk diri sendiri. Entah berapa undangan pernikahan teman yang terlewatkan karena di hari sabtu pun aku bekerja. Bukannya aku bekerja dengan lambat hingga akhir pekanpun terpaksa masih harus ke kantor. Aku sudah menyiasati tanggungjawabku sesangkil dan semangkus mungkin namun tetap saja ia menyita semua hari yang ku punya dalam seminggu. Ah posisi ini, selain merampas pacar juga teman. Dan bahkan juga memperkosa waktu senggangku membaca novel. Apalagi blogging ! Jangankan untuk itu, kulihat dalam agendaku tak ada lagi ruang untuk memoles diri.
Aku rindu itu.. rindu memanjakan diri dan tidak sendiri !
Terkadang karena terlampau sering menolak ajakan teman untuk temu kangen, aku paksakan untuk hadir. Namun bukan cengkrama dan senda gurau yang kubagikan melainkan hanya kehadiran raga sementara jiwa dan pikiran terpatri ke layar ponsel. Keparat memang ponsel ini ! Kalau sudah begitu, sebagai obat rasa bersalah paling banter ku kirimkan beberapa buah tas kepada teman-teman melalui facebook. Atau menjelang paskah seperti ini, aku sudah sibuk mengirmkan telur – telur yang harus dipelihara agar ketika paskah nanti ada kelinci menetas dari telur itu (heran kelinci itu kan hewan mamalia yang berkembang biak dengan melahirkan kenapa juga bisa menetas).
Oh My GOD !
Apakah aku telah berubah menjadi ropot upahan perusahaan ?!
Apakah aku bukan lagi manusia ?
Aku bukan manusia tapi robot hidup !
Dan yang lebih menggenaskan robot hidup yang terpenjara waktu!
Nistanya aku, merasa tas, sepatu, makanan atau apa pun yang kukirimkan melalui facebook cukup untuk menggantikan pertemuan yang sesungguhnya. Bodohnya aku menganggap komentar-komentar nakal pada status setiap kawan di dinding facebook sudah cukup menunjukkan perhatian.
Ah, aku butuh keseimbangan sebelum benar – benar berubah menjadi manusia besi tanpa hati dan empati !
Ku raih tas Hermesku yang kubeli dari bonus pencapaian target (nampaknya sekarang merk ini tak penting lagi) yang terpenting adalah hangat persahabatan dalam nyata kebersamaan. Cepat kukemasi barang – barangku. Namun belum lagi meninggalkan ruangan, langkah kaki dihadang sekretaris gesit andalan. Lembut ia berkata, “Bu Oliv, jangan lupa sebentar lagi ada jamuan ma…
“Saya tidak ikut,” potongku cepat sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. “Kamu boleh wakili saya,” sambungku lagi.
“Tapi bu..”
Perkataannya terhenti melihat sorot tajam mataku yang seakan menelanjanginya. Namun dengan kepala menunduk dan suara memelas ia berkata lagi.
“Bu.., Saya harus bilang apa?” tanyanya pasrah.
“Bilang aja, Olivia Lazuardi sedang menjadi manusia ! “
Lalu aku melangkah pergi. Tanpa menoleh lagi.
Selamat hari Senin sobat, saya permisi sebentar mau menculik beberapa teman untuk kongkow bersama. Dan akhirnya senyum kebahagian menggantikan senyum kecutku
Eka Situmorang – Sir




Jadi inget bukunya James Patterson, klo hidup ibarat bola2 ada keluarga, teman dan pekerjaan. Tugas kita adalah membuatnya seimbang. Dan bola keluarga dan teman terbuat dari gelas kaca, berhati2lah karena mereka bisa pecah dan tersakiti, sementara bola pekerjaan terbuat dari karet, yang jika jatuh bisa kembali melompat kembali..
hmm memang susah yaa jadi manusia. susahnya untuk menjadi seimbang kayak logo orang cina ying yang. sala kenal yaaa
ditunggu kunjungan baliknya
say, bagus ni… hehe ^^
mungkin blog ini membantu hihihi …
http://ronawajah.wordpress.com/
ah terbayang bila diriku terpenjara waktu dengan belenggu angan yang tak pernah ada juntrungnya
Haaa
Sip tuh, pacar itu mengikat, harus lapor, cemburu, telpon trus, gak diangkat curiga ..
Wooghh …
Ada nggak pacar yang nggak posesif,, tapi juga nggak cuek ..??
—
hadoh doh … malah iklan
pasti gadgetnya blackberry hahahaahah