alar mengatakan bahwa tak ada yang pantas untuk dipilih. Mereka semua telah tercemar. Bau bangkainya saja sudah tercium padahal bungkusnya belum terbuka, begitu argumennya.
Namun Kalbu dengan suara kesejukannya mengingatkan bahwa kita harus ikut menentukan nasib bangsa. Harus ikut bertanggung jawab. Karena golput bukan pilihan (walaupun tidak memilih sebenarnya juga suatu pilihan waras ! ) karena sejatinya manusia lahir dengan segepok tanggung jawab. Mereka yang menolak bertanggung jawab sesungguhnya gentar apabila nanti pilihannya tidak seperti yang ia harapkan. Namun jauh panggang dari api adalah suatu resiko dari pilihan. Jadi tak perlu gentar. Dewasa dan bertanggungjawablah, begitu bujuknya.
Nalar bersikeras bahwa memilih tanpa tahu siapa yang dipilih adalah kesia-siaan. Untuk itu diam di rumah atau pergi ke mall adalah keputusan yang paling bijaksana. Apa yang mau dipilih, wong caleg.nya saja tak lulus fit and proper test paling cuma lulus tampang, jelasnya gamblang.




Pingback: Sepotong Cerita di Casablanca « EKA’s little story
Pingback: Sepotong Cerita di Casablanca - Cerita EKA
wah asik ni bisa tambah pengalaman antara perbedaan nalar dan kalbu..